Friday, 13 November 2015

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan (hereditas)
Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.[1]
Setiap individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu, ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan/ pemindahan dari cairan-cairan “geminal” dari pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkungan fisik, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari hereditas dan lingkungan. Agar kita dapat mengerti dan mengontrol perkembangan tingkah laku manusia, kita hendaknya mengetahui hakekat dan peranan dari masing-masing (hereditas dan lingkungan).[2]
Warisan atau keturunan memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir ke dunia ini membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari Ibu bapaknya, atau nenek dan kakeknya, warisan (keturunan atau pembawaan) tersebut yang paling penting antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, inteligensi, bakat, sifat-sifat, atau watak dan penyakit warisan yang di bawa anak sejak dari kandungan sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (Ibu dan Ayahnya). Hal ini sesuai dengan hukum Mendel yang dicetuskan GregorMendel (1857) setelah mengadakan percobaan perkawinan berbagai macam tanaman dikebunnya. Hukum Mendel ini juga berlaku untuk manusia. Warisan yang diterima anak tidak selamanya berasal dari kedua orang tuanya, tetapi dapat juga dari nenek atau kakeknya. Misalnya seorang anak memiliki sifat pemarah, itu tidak dimiliki oleh ibu-bapaknya tetapi kakeknya.[3]
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor, namun keluarga merupakan unsur yang sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian dan kemampuan anak sebagai dasar pertumbuhan dan perkembangan yang cukup kuat untuk menjadi manusia dewasa.[4] Hal tersebut mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap keturunan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada usia selanjutnya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an yang mengisahkan bagaimana Allah mengutamakan keluarga Ibrahim dari Sekalian alam sebagai hasil dari keturunan yang saleh yang terus turun kepada generasi berikutnya:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِين (الا مران: 33)
“Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, dan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran dari seluruh alam (yaitu) satu keturunan yang sebagiannya dari yang lain, Dan Allah maha mendengar lagi maha melihat.”[5]
Kemudian dicontohkan Nabi Ibrahim  
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِين.َوَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (الانبياء : 73 72)

Dan kami telah memberikan kepadanya, Ibrahim, Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah dari pada kami. Dan masing-masing kami jadikan orang-orang yang saleh, kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami yang telah kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”.[6]
Dari sinilah kita mengetahui bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh yang sangat besar, meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor. Hal ini dikarenakan masih ada unsur-unsur/ faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti; faktor keluarga dan masyarakat.
Faktor Keluarga
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Bagi anak keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenalnya.[7]
Peranan lingkungan keluarga selain tempat pertemuan antarkomponen yang ada didalamnya, lebih dari itu juga memiliki fungsi reproduktif, religius, rekreatif, edukatif, sosial dan protektif.[8] Peran yang diambil orang tua khususnya ibu, pada masa-masa awal kelahiran anak, sangatlah besar, mendalam, dan mendasar, karena sejak bayi anak di gendong dan disusui ibunya. Hubungan antara ibu dengan anak begitu kuat, kepribadian, tingkah laku, dan semua ekspresi orang tua di tuangkan melalui semacam kekuatan yang tersembunyi yang lambat laun membentuk diri anak menjadi manusia.[9] Pada masa ini anak membutuhkan seorang ibu yang mau meluangkan waktunya untuk mengembangkan sifat-sifat yang kontra dengan pertumbuhan yang seimbang, seperti perasaan takut, dan berharap, senang dan benci.
Faktor yang paling penting di dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah teladan dari orang tuanya. Anak-anak akan mengamati, berusaha meniru, melakukan kesalahan, melupakan dan untuk sesaat anak-anak akan berusaha untuk mencari ide alternatif serta kemudian mempolakan dirinya kepada model orang tuanya. Tetapi harus di akui bisa jadi kontraproduktif, bila para orang tua tidak memberikan teladan yang tidak baik. Teladan orang tua jauh lebih membekas dari semua kata yang mereka ajarkan.[10] Penanaman prinsip-prinsip musyawarah, keimanan, saling menolong, kewibawaan seorang ayah dalam keluarga, sikap yang muda menghormati yang tua, yang tua mengasihi yang lebih muda, itu semua merupakan teladan yang perlu di tanamkan pada seorang anak pada masa awal kanak-kanak. Dia akan tumbuh berkembang sesuai dengan dasar-dasar di atas.[11]       
Pengaruh masyarakat
Lingkungan ketiga yang mempengaruhi perkembangan anak adalah lingkungan masyarakat, selain pendidikan dalam keluarga dan sekolah masyarakat dapat dikatakan suatu alat pendidikan yang tidak kalah pentingnya dari keluarga dan sekolah.
Dalam pengertian yang sederhana masyarakat adalah kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara kebudayaan dan agama.[12]
Disini sepintas peranan lingkungan masyarakat bukan merupakan lingkungan yang mengandung unsur tanggung jawab, melainkan hanya merupakan unsur pengaruh belaka, tetapi norma dan tata nilai yang ada terkadang lebih mengikat sifatnya. Bahkan terkadang pengaruhnya, lebih besar dalam perkembangan kepribadian anak baik dalam bentuk positif maupun negatif.[13] Hal ini, disebabkan karena adanya interaksi antara anak sebagai individu dan masyarakatnya sehingga dalam perkembangan anak sangatlah penting dan tidak boleh diabaikan begitu saja akan pengaruh faktor lingkungan masyarakat sekitar.[14] Karena boleh jadi anak yang tadinya penurut, baik akan tetapi karena lingkungan masyarakat yang kurang baik anak akan bersikap sebaliknya.


[1]Syamsu Yusuf., Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Rosda Karya, Bandung, 2000, hlm. 71.
[2]Daiyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hlm.120.
[3]Ibid, hlm. 121.
[4]Fuaduddin, Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Islam, Lembaga Kajian Agama dan Jender, Jakarta, 1999, hlm. 5.
[5] QS: Ali Imran 33
[6] QS: al-Anbiya 72-73.
[7]Jalaluddin, Psikologi Agama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, hlm. 220.
[8]Fuaduddin, Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Islam, hlm. 6.
[9]Shinischi Suzuki, Mengembangkan Bakat Anak Sejak Lahir, PT Gramedia, Jakarta, 1989, hlm.  9.
[10]Norma Tarazi, Wahai Ibu Kenali Anakmu, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001 hlm. 166.
[11]Khatib Ahmad Santhut, Menumbuhkan Sikap Sosial,Moral, dan Spiritual Anak dalam Keluarga Muslim , Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1998, hlm. 33.
[12]Umar Muhammad al-Thamy al-Syabani, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Drs. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta,  1979, hlm. 164.
[13]Jalaluddin, Psikologi Agama, hlm. 222.

[14]Ibid, hlm. 208.

Share:

Thursday, 12 November 2015

FASE-FASE PERTUMBUHAN ANAK USIA DINI

Anak adalah sosok individu unik yang mempunyai eksistensi, yang memiliki jiwa sendiri, serta memiliki hak untuk tumbuh berkembang secara optimal sesuai dengan kekhasanan-iramanya masing-masing. Perkembangan tersebut terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap perkembangan selanjutnya. Prinsip tersebut merupakan tahap-tahapan atau fase-fase dalam perkembangan yang mempunyai arti sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola tingkah laku tertentu.[1]
Dalam tahap perkembangan, selain tumbuh secara fisik, anak-anak juga berkembang secara kejiwaan. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai prilaku sesuai dengan ciri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut. Selain itu dalam setiap perkembangan, potensi anak akan semakin tumbuh dan akan memberikan kontribusi yang berharga bagi peradaban.[2]
Adapun fase-fase perkembangan yang perlu diketahui sehubungan dengan masa-masa penting pertumbuhan kepribadian anak, yaitu; masa bayi dan masa awal kanak-kanak.
1.      Masa Bayi
Masa bayi adalah, dasar periode kehidupan yang sesungguhnya, pada masa inilah pola prilaku sikap dan ekspresi emosi banyak terbentuk. Ciri-ciri perkembangan pada masa tersebut, meliputi: perkembangan fisik, inteligensi, emosi, bahasa, bermain, pengertian kepribadian, moral dan kesadaran beragama.[3] Berkaitan dengan ciri-ciri perkembangan tersebut, maka mengapa dasar-dasar yang diletakkan pada masa bayi itu penting. Secara ilmiah, pentingnya pendidikan bayi pertama kali muncul dari karya Frecid, yang berpendapat bahwa penyesuaian diri yang kurang baik dimasa dewasa, berpangkal pada pengalaman pada masa kanak-kanak yang kurang baik. Ericson juga berpendapat bahwa “masa kanak-kanak merupakan kancah manusia untuk memulai fungsinya sebagai manusia, tempat dimana kebaikan dan keburukan kita berkembang dengan lambat tetapi pasti dan tempat dimana sifat-sifat itu menjadi terasa”. [4]
Sedangkan menurut Elizabeth B. Hurlock, setidaknya, ada empat alasan yang menyebabkan mengapa dasar-dasar yang diletakkan pada masa bayi itu penting. Pertama, berlawanan dengan tradisi, sifat-sifat yang buruk tidak berkurang dengan bertambahnya usia anak, sebaliknya pola-pola yang terbentuk pada permulaan kehidupan cenderung mapan, apakah itu sifat yang baik atau buruk, berbahaya atau bermanfaat. Kedua, kalau pola prilaku yang kurang baik atau kepercayaan dan sifat yang buruk mulai berkembang, maka semakin cepat hal-hal itu diperbaiki, akan semakin mudah bagi anak. Ketiga, karena dasar-dasar awal cepat berkembang menjadi kebiasaan melalui pengulangan, maka dasar-dasar itu akan selamanya mempengaruhi pribadi dan sosial. Keempat, karena faktor belajar dan pengalaman memainkan peran yang penting dalam perkembangan, hal itu dapat diarahkan dan dikendalikan sehingga perkembangannya sejajar dengan jalur yang memungkinkan terjadinya penyesuaian pribadi dan sosial yang baik.[5]
Sedangkan ciri-ciri yang menonjol dari fase perkembangan masa bayi yang berlangsung dari minggu kedua sampai tahun kehidupan kedua adalah, bahwa “periode tersebut merupakan tahun-tahun dasar, masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat dan berkurangnya ketergantungan, masa meningkatnya individualitas dan permulaan sosialisasi, masa penggolongan peran seks, dan kreativitas; dan masa yang menarik sekaligus berbahaya”.[6]
2.      Awal Masa Kanak-kanak
Awal masa kanak-kanak yang berlangsung dari 2-6 tahun, dimana pada masa tersebut anak sudah memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita dan mampu mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan diri).[7] Pada masa tersebut, oleh orang tua disebut sebagai usia yang problematis, menyulitkan atau mainan. Hal ini disebabkan karena belum cukupnya pengalaman seorang ibu (terutama pada anak pertama) dalam merawat anak, masa bayi sering membawa masalah bagi orang tua dan umumnya berkisar pada masalah perawatan fisik bayi. Dengan datangnya masa kanak-kanak, sering terjadi masalah perilaku yang lebih menyulitkan dari pada masalah perawatan fisik bayi. Ketergantungan bayi yang sangat mengundang kasih sayang para orang tua dan hak-haknya. [8]
Sekarang berubah, anak tidak mau ditolong dan cenderung menolak ungkapan kasih sayang mereka. Disamping itu, diawal masa kanak-kanak ini, anak cenderung menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermain. Kesanggupan jiwa membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang telah ada, dinamakan fantasi. Anak-anak sangat luas dan leluasa fantasinya, artinya dapat membuat gambaran khayal yang banyak dan luar biasa sehingga orang dewasa menganggapnya mustahil, misalnya sapu dan tongkat diciptakan menjadi kuda-kudaan, kursi dibalikkan menjadi kereta kuda dan sebagainya. Tetapi mereka belum mampu membedakan antara gambaran pengamatan, gambaran ingatan, dengan gambaran fantasi, karena akal dan pengertian yang mereka miliki masih sederhana, sedangkan perasaan dan keinginannya sangat meluap-luap, cerita dongeng yang luar biasa isinya, berada diluar alam nyata, sangat menarik perhatian mereka itu dan cerita dongeng itu sangat penting bagi perkembangan kepribadiannya.[9]
Sebelum anak-anak bersekolah, permainan mempunyai peranan yang penting dalam kehidupannya, didalam permainan itu anak-anak kita lihat merdeka dan gembira-ria, fantasi anak yang terutama memberikan kemungkinan kepada mereka itu untuk dapat mendirikan dunianya yang tersendiri itu. Dunia pikiran keinginan, kemauan dan perasaan dapat dihayati sepenuhnya dalam permainan-permainannya. Ia dapat tengelam dalam lubuk fantasinya itu dan dunia kenyataan tidak menghalanginya sedikit juga. Ciri lain yang paling menonjol dalam periode ini adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Namun meskipun kecenderungan ini tampak kuat, tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain.[10]


[1] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,  PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000, hlm. 20.
[2]Sindunata, Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita, Kanisius, Yogyakarta, 2000, hlm. 92.
[3]Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hlm. 151.
[4]Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta, 1999, hlm. 76.
[5]Ibid, hlm. 76.
[6]Ibid, hlm. 101.
[7]Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,  hlm. 162.
[8]Ibid, hlm. 190.
[9]Fuaduddin, Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Islam, Lembaga Kajian Agama dan Jender, Jakarta, 1999, hlm. 26.
[10]Elizabeth B. Hurlock, Op. cit, hlm. 121.
Share:

Wednesday, 11 November 2015

PROSES PERKEMBANGAN PRANATAL

Semua kejadian yang ada di dunia ini, bukanlah sesuatu yang ada dengan sendirinya, melainkan keberadaannya melalui beberapa rangkaian yang selanjutnya menjadi suatu kejadian. Begitu juga dengan keberadaan manusia. Allah tidak menjadikan manusia dalam bentuk yang langsung sempurna, seperti apa yang bisa kita lihat. Tetapi manusia diciptakan melalui sebuah “proses” atau tahapan-tahapan tertentu. Proses tersebut akan selalu berubah ke arah yang lebih maju, atau dengan kata lain ke arah yang lebih sempurna yang disebut sebagai perkembangan.[1]
Perkembangan setiap individu dimulai pada saat pembuahan yang terjadi apabila sperma laki-laki menembus dinding ovum atau sel telur wanita.[2] Jika sebuah sperma telah menyentuh sel telur, maka sperma itu langsung meresap pada selaput sel telur dan memasuki cairan sel telur tersebut. Pada saat itu terjadi keajaiban alam, karena setelah satu dari 250.000.000 sel sperma yang mencoba menembus sel telur yang hanya satu telah berhasil, maka sel telur tersebut tidak dapat lagi ditembus oleh sperma yang lainnya.[3]
Jadi dari jutaan sel sperma yang dipancarkan pada saat melakukan hubungan seks, hanya ada satu yang dapat menembus dinding ovum, itu berarti bahwa seorang anak yang lahir  adalah seorang pemenang, karena sel yang menembus dinding ovum tersebut setelah mengalami proses yang panjang, akan membentuk janin yang nantinya akan menjadi mahluk hidup (bayi).
Sebelum pembuahan terjadi ada sejumlah persiapan yang dilakukan oleh sel benih laki-laki dan wanita yang melibatkan baik kromosom maupun sitoplasma.[4] Adapun tujuan dari persiapan tersebut adalah sebagai berikut:
1.   Mengurangi jumlah kromosom menjadi setengah jumlah normal sel somatik, yaitu dari 46 menjadi 23, hal ini terjadi melalui miosis atau pembelahan pematangan yang sangat diperlukan. Karena jika tidak demikian maka penyatuan dari sel benih pria dan wanita akan menghasilkan suatu individu dengan sejumlah kromosom sebanyak dua kali lipat dari sel induknya.[5]
2.   Mengubah bentuk sel-sel benih sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel benih pria, mula-mula besar dan bulat, praktis kehilangan semua sitoplasma dan membentuk kepala, leher dan ekor. Sel benih wanita sebaliknya berangsur-angsur menjadi besar sebagai akibat suatu tambahan dari jumlah sitoplasma.[6]
Jadi bisa dikatakan bahwa persiapan yang dilakukan oleh masing-masing sel benih, bertujuan agar pembuahan bisa berlangsung dengan sempurna dan bisa menghasilkan individu baru yang mempunyai sel somatik normal yaitu 23 pasang atau jumlah kromosom yang diploid (diploos: rangkap dua). Salah satu kromosom berasal dari ibunya dan yang lain berasal dari ayahnya.
Setelah terjadi pembuahan, kepala sperma berusaha masuk ke dalam ovum melalui permukaan luarnya. Jika ada sebuah sperma berhasil masuk, membran ovum berubah sehingga tidak bisa dimasuki sperma yang lain.[7] Kemudian terbentuklah sel baru yang disebut zigot. 23 kromosom dari nukleus sperma ayah dan 23 kromosom dari ovum ibu bergabung membentuk satu sel bernukleus tunggal yang mengandung 46 kromosom.
Beberapa jam setelah pembuahan, zigot mengalami pembelahan atau mitosis menjadi dua sel baru yang serupa kemudian masing-masing sel membelah menjadi dua lagi dan seterusnya. Setiap sel mengandung tiruan kromosom yang persis sama dengan sel-sel sebelumnya. Sekumpulan sel membutuhkan waktu kira-kira empat hari untuk turun ke dalam rahim melalui oviduct.[8]
Jika segala sesuatu berjalan lancar, maka telur yang telah dibuahi akan tiba di rongga rahim dalam waktu kurang lebih tiga puluh enam jam, dan di tempat tersebut selaput lendir (endometrium) sudah bertambah tebal yang merupakan hasil kerja dari hormon ovarium, sehingga saluran lendir yang telah menebal itu telah siap untuk ditempati.[9]
Pada hari-hari pertama perkembangannya, sel telur ini tergantung pada sari makanan yang diserap dari selaput lendir. Setelah beberapa minggu sebuah organ terbentuk dengan tujuan untuk menyerap sari makanan dan mengekskresikan produk-produk yang tak berguna ke aliran darah sang ibu. Inilah yang disebut plasenta atau ari-ari, yang melekat pada permukaan dinding uterus dan berhubungan dengan janin melalui tali pusat.[10] Tali ini menghubungkan janin dengan plasentanya. Organ-organ ini sama sekali tidak menghubungkan   dengan aliran darah sang ibu, jadi darah sang ibu dan sang janin tidak pernah bercampur menjadi satu. Zat-zat tersebut hanya berkisar bolak balik pada plasentanya yang terletak antara aliran darah sang ibu dan janinnya melalui proses difusi yang sederhana.
Di sekitar plasenta terdapat selaput yang menyebar dan melekat pada permukaan dinding uterus yang sebelah dalam yang disebut selaput janin.[11] Selaput ini menyerupai sebuah kantong tipis yang hampir-hampir transparan seperti balon, dan berisi cairan amniotik, yaitu cairan yang menyelubungi janin. Cairan ini sejernih air dan pada bulan-bulan terakhir masa kehamilan volumenya mencapai lebih dari setengah liter. Cairan ini juga menciptakan medium agar janin dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya, juga untuk melindungi sang janin dari benturan-benturan yang mungkin saja terjadi.
Perkembangan janin merupakan suatu proses yang rumit.  Misalnya pada saat terbentuknya sistem-sistem utama secara keseluruhan yaitu yang berhubungan dengan jantung, pernafasan, pencernaan dan saluran kemih. Setelah bentuk-bentuk dasar anatomi terbentuk, sang janin masih memerlukan waktu enam bulan lagi sebelum tiba saatnya untuk dilahirkan.  Sepanjang waktu itu sang janin berbaring melekuk menyerupai sebuah bola yang kompak, dikelilingi oleh kegelapan, kehangatan dan air yang melingkupinya.
Makin lama janin terinkubasi dalam uterus, makin besar janin itu dan makin kuat daya tahannya.  Pada akhir bulan kelima, berat sang janin kurang lebih setengah kilogram, pada akhir bulan keenam, kira-kira     1,25 Kg, pada bulan ketujuh 2 kg, kedelapan 2,75 kg dan pada bulan kesembilan bisa mencapai 3,5 kg.
Elizabeth B.  Hurlock, membagi fase perkembangan manusia menjadi tiga periode/fase, yaitu periode zygote, periode embrio dan periode fetus.[12]
1.   Periode Zygote
Berlangsung dari pembuahan sampai implantasi pada dinding rahim sekitar 10 hari sesudah pembuahan. Jika sperma memasuki ovum maka sebuah proses dimulai yang menghasilkan peleburan inti sperma dengan inti ovum yang telah dibuahi yang disebut zygote yang mengandung 23 pasang kromosom.[13] Kemudian ovum yang telah dibuahi mulai membagi diri (melakukan pembelahan), dari saluran telur tempat ia dibuahi menuju ke uterus dan akan ditanam (menempel) di dinding uterus (implantasi).[14]
2.   Periode Embrio
Periode ini ditandai dengan perkembangan yang cepat sekali dari susunan syaraf. Dalam periode ini kepala lebih besar dibanding dengan bagian badan yang lain. Ini menunjukkan 8 minggu yang pertama merupakan suatu periode yang sensitif untuk integritas susunan syaraf. Gangguan mekanis dan kimiawi pada saat ini dapat menyebabkan kerusakan permanen dari susunan syaraf dibanding jika susunan tersebut terjadi pada waktu selanjutnya.[15]
3.   Periode Janin/Fetus
Periode ini berlangsung dari akhir bulan kedua sampai lahir. Pertumbuhan mengikuti hukum arah perkembangan yaitu dari bentuk yang belum sempurna ke bentuk yang lebih sempurna. Kegiatan janin sudah dimulai antara bulan kedua dan ketiga, misalnya menyepak, menggeliat dan memutar-mutar.[16] Organ intern hampir mendekati posisi orang dewasa. Ciri ekstern dan intern terus berkembang dari bulan ke bulan, sampai bentuk janin benar-benar sempurna dan selanjutnya, tinggal menunggu kelahiran janin.
Untuk lebih jelasnya, Paul Henry Mussen, dkk, dalam buku Perkembangan dan Kepribadian Anak, terjemahan Dr. Med MethasariTjandrasa, menguraikan tahap-tahap perkembangan pranatal sebagai berikut:
Tahap-tahap dalam perkembangan pranatal
Minggu ke- 1
Ovum yang telah dibuahi akan turun melalui tuba fallopi menuju ke uterus.
Minggu ke- 2
Embrio melekatkan dirinya pada dinding uterus dan berkembang dengan cepat.
Minggu ke-3
Embrio mulai berbentuk, bagian kepala dan ekor dapat dibedakan dan jantung sederhana mulai berdenyut.
Minggu ke-4
Permulaan pembentukan daerah mulut, saluran pencernaan dan hati. Jantung mulai berkembang dengan pesat serta daerah kepala dan otak mulai dapat dibedakan.
Minggu ke-6
Tangan dan kaki mulai terbentuk, namun lengan masih terlalu pendek dan tumpul untuk saling bertemu, hati mulai membentuk sel darah merah.
Minggu ke-8
Panjang embrio sekitar 1 inci. Wajah, mulut, mata dan telinga mulai mempunyai bentuk yang jelas. Pertumbuhan otot dan tulang dimulai.
Minggu ke-12
Panjang janin sekitar 3 inci. Ia mulai membentuk seorang manusia, walaupun perbandingan kepala terlalu besar. Wajah mempunyai profil seperti bayi. Kelopak mata dan kuku mulai terbentuk, dan jenis kelamin dapat dibedakan dengan mudah. Susunan saraf masih sangat sederhana.
Minggu ke-16
Panjang janin sekitar 4,5 inci. Gerakan yang dilakukan janin sudah mulai dirasakan oleh ibu. Kepala dan organ-organ dalam tubuh berkembang dengan pesat. Perbandingan bagian-bagian tubuh mulai menyerupai bayi.
5 Bulan
Kehamilan hampir sempurna. Panjang janin sekitar 6 inci dan mampu mendengar serta bergerak lebih bebas. Tangan dan kaki sudah lengkap.
6 Bulan
Panjang janin sekitar 10 inci. Mata sudah terbentuk dengan lengkap dan bintik-bintik pengecap timbul pada lidah. Janin mampu bernafas dan menangis lemah, seandainya kelahiran berlangsung prematur.
7 Bulan
Usia kehamilan yang penting. Janin mencapai tahap “mampu hidup“, (bila lahir prematur). Secara fisiologis janin mampu membedakan macam-macam rasa dan bau. Rasa sakit relatif belum ada. Kemampuan bernafas dangkal dan tak teratur. Kemampuan menghisap dan menelan masih lemah.
7 Bulan sampai masa kelahiran
Janin lebih siap untuk hidup secara mandiri di luar rahim. Tegangan otot bertambah, gerakan menjadi lebih sering dan pernafasan menjadi jelas, kunyahan, hisapan, dan tangisan lapar menjadi lebih kuat.[17] Setelah minggu ke 38 (9 bulan). Bayi siap lahir biasanya ia berputar sehingga posisi kepalanya turun kearah pelvis. Pada awal proses kelahiran atau partus (labour) si ibu biasanya mengalami kontraksi otot yang kuat dan lentur. Ujung bawah uterus (cervix), perlahan-lahan membuka, makin lama makin lebar. Setelah 12 jam (lamanya bisa berubah-ubah), diameter cervix kira-kira mencapai 10 cm. Tahap kedua berlangsung kira-kira satu jam kontraksi yang semakin kuat mendorong bayi turun melalui cervix, lalu ke vagina dan akhirnya keluar dari tubuh itu yang dimulai dengan pecahnya membran di sekitar bayi, kemudian keluar Cairan atau amnion atau air tuban, terjadilah proses kelahiran yang mengakhiri masa kehamilan.[18]


[1]SumadiSuryabrata, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Grafindo Persada, Jakarta 1995, hlm. 178
[2] Dr. Med. MeitasariTjandra, Perkembangan dan Kepribadian Anak, Erlangga, Jakarta 1988, hlm. 45.
[3] Dr. Robert E. Hall, Petunjuk Medis bagi Wanita Hamil, Judul Asli:Nine Months A Medical Guide for Prenant Women, Delapratasa, Jakarta, 1995, hlm. 32
[4]T.W.Sadler, Ph.D., LangmanEmbriologi Kedokteran (Lagman’s Medical Embriology), EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 1988, hlm. 3
[5]Ibid.
[6]Ibid.
[7] dr.Petrus Lukmanto, Keajaiban Kehidupan, alih bahasa oleh Joshua Simbodo, judul asli, La Maravilla de La Vida, PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta, 1996, hlm.16
[8]Ibid.
[9] Dr. Robert E. Hall, Petunjuk Medis bagi Wanita Hamil,hlm. 33
[10]Ibid. hlm. 34
[11]Ibid. hlm. 35
[12] Elisabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, Erlangga, Jakarta, 1978, hlm. 66
[13] Prof. Dr. Siti Rahayu Haditono, Op. Cit., hlm. 43
[14] Dr. Med MethasariTjandra, Perkembangan dan Kepribadian Anak, hlm. 46
[15]Ibid., hlm. 49
[16] Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak, hlm. 66
[17]dr. Med MeitasariTjandrasa, Perkembangan dan Kepribadian Anak, hlm. 50
[18]dr. Petrus Lukmanto, Keajaiban Kehidupan, hlm. 26
Share:

Featured post

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan ( hereditas ) Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartik...

Popular Posts

Pageviews

Powered by Blogger.