Showing posts with label kurikulum. Show all posts
Showing posts with label kurikulum. Show all posts

Thursday, 21 May 2015

PENDIDIKAN DI ALAM BEBAS (MASYARAKAT)


Pendidikan sebagai langkah awal bagi pendewasaan seseorang telah mengalami pergeseran paradigma, ini disebabkan karena hakekat, substansi serta tujuan dari pendidikan telah tercabut dari akarnya. Pendidikan sebagai proses awal bagi manusia untuk dapat mengetahui realita kehidupan dunia ternyata hanyalah teori belaka. Salah satunya sekolah yang merupakan lembaga penyelenggara pendidikan telah membuat pendidikan itu sendiri kehilangan substansi.
Masyarakat merupakan salah satu pendukung terhadap keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu masyarakat dan lingkungan sekolah perlu dibudidayakan secara optimal. Masyarakat memerlukan jasa sekolah untuk mendapatkan program-program pendidikan sesuai dengan yang diinginkan. Hubungan sekolah dengan masyarakat sangat besar manfaat dan artinya bagi kepentingan pembinaan dukungan moral, material, dan pemanfaatan masyarakat sebagai sumber belajar. Sebuah peradaban tak bisa hanya dinilai dari kemajuan teknologi saja, karena tanpa diimbangi dengan membangun moral spiritual hanya akan melahirkan generasi-generasi tiran, amoral, bahkan paranoid.[1]

PERMASALAHAN
Dewasa ini pendidikan yang ada di sekolah formal tidak menjamin semua lulusannya menjadi “orang sesungguhnya”. Justru pendidikan di sekolah non-formallah banyak melahirkan generasi yang siap menjalani kehidupan nyata. Karena lewat pendidikan di sekolah non formal mereka bisa menyatu dengan alam sehingga tahu bagaimana cara membangun kehidupan yang nyata. Sehingga dalam makalah saya ini sedikit akan membahas mengenai Pendidikan di Alam Bebas “Masyarakat”.

PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Pendidikan adalah proses mendewasakan manusia, transfer and transmitter of knowledge and value. Pendidikan merupakan proses awal kehidupan manusia, wilayahnya menjadi titik awal bagaimana mencari tujuan menentukan arah. Pendidikan tak hanya terkungkung dalam ruang kelas yang kecil, dan teralienasi dari realitas sosial. Maka disini saya berusaha menghadirkan bahwa alam semesta ini adalah sebuah ruang kelas raksasa.
Pendidikan merupakan pengalaman yang tak terbatas dalam waktu dan bentuk adalah sifat random. Yakni terjadi kapanpun sepanjang kurun waktu, usia hidup dimanapun, kapanpun dalam perjalanan hidup seseorang dan siapapun dari umat manusia adalah pelajaran dengan pengalaman hidup sebagai guru dan lingkungan adalah tempat belajar umat manusia.[2]
Tugas utama sebuah pendidikan adalah mengalihkan informasi, aturan dan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya untuk mempertahankan substansi dan melindungi pencapaian generasi berikutnya.
Pendidikan yang berbasis pada masyarakat pendidikan yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat (aturan, prosedur, pembiayaan) diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedang perintah secara langsung atau tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sedang pemerintah secara langsung atau tidak hanya berperan dalam meningkatkan sumber daya manusianya melalui dukungan pada aspek-aspek yang tidak mampu dipecahkan oleh masyarakat.[3]
Ciri pendidikan kemandirian karena segala bentuk urusan diserahkan pada masyarakat sendiri. Pada bentuk ini pendidikan dan pengajaran didasari kesadaran akan adanya daya yang kuat dalam masyarakat untuk menentukan, merencanakan, mengembangkan, membiayai, melaksanakan dan menggerakkan segala bentuk pembelajaran yang mereka perlukan.
Pendidikan yang membebaskan merupakan pendidikan yang menyempurnakan proses pemecahan masalah secara ilmiah, mengedepankan penyelidikan tertentu yang bisa memberi hasil pengetahuan obyektif (yang lebih efektif dan lebih bisa dipercaya). Semua upaya adalah demi menuntaskan masalah-masalah praktis dan bukan membuat keabstrakan. Pendidikan di alam bebas ini menanamkan budi pekerti yang menentukan beradab atau tidaknya manusia.
Kebebasan itu terwujud atau terlihat ketika individu-individu bersatu dengan cara tertentu, ketika mereka hadir secara otentik (tanpa kedok kepura-puraan atau pangkat) ketika mereka mempunyai kegiatan yang dapat mereka jalankan bersama.
B.     Hakekat Alam Semesta (Masyarakat)
Dengan adanya pendidikan di alam bebas (masyarakat) ini manusia akan terdorong untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapinya. Dalam pendidikan ini setiap individu manusia menjadi buah pikiran, pendirian, contoh, dan tujuan untuk mencapai kebahagiaan.
Masyarakat merupakan sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Maka hubungan sekolah dan masyarakat harus berjalan dengan baik, juga rasa tanggungjawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah sehingga akan menghasilkan lulusan yang berkualitas terhadap ilmu pengetahuan ketrampilan dan sikap yang dapat dijadikan bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya atau hidup dimasyarakat sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.[4]
Dalam sekolah alam tidak hanya dijadikan sebagai obyek pembelajaran namun juga dijadikan sebagai partner, sehingga tidak ada lagi yang namanya eksploitasi alam secara membabi-buta. Dalam sekolah alam peserta didik bebas berekspresi karena pada hakekatnya belajar dalam sekolah alam adalah penumbuhan jatidiri, gagasan, kreatifitas yang sesungguhnya.[5] 
Maksudnya para siswa kelas alam tidak hanya belajar pengetahuan diatas menara gading intelektual. Namun juga secara aktif terlibat langsung proses transformasi sosial. Peserta didiknya “berpenampilan” orisinal tanpa kepalsuan sebab ia tidak diikat oleh peraturan “penjara” sekolah konvensional. Materi pelajaran bersifat sukarela, disesuaikan dengan kebutuhan, potensi masing-masing. Sekolah alam benar-benar bebas secara jasmani dan rohani sehingga potensi manusia dapat digali secara optimal.
Jadi lupakanlah “guru berpidato diatas panggung dan siswa mendengarkan dengan baik, akan tetapi rubahlah dengan siswa aktif berkreasi diatas panggung dan guru mengarahkan dari jauh”.
Sekolah sampai bisa dikatakan penjara karena peserta didik hanya diumpamakan sebagai gelas kosong yang siap diisi air oleh guru-gurunya dimana setiap apa yang dikatakan dilakukan dan dikerjakan oleh seorang pengajar mutlak kebenarannya jadi siswa diwajibkan untuk mengikutinya. Tidak ada sama sekali kebebasan siswa. Mereka sangat terikat dengan adanya peraturan-peraturan tertulis, padahal yang terjadi pada pendidikan formal Indonesia. Para pengajar tidak sedikit yang mencontoh hal-hal yang terkadang menyimpang dan tidak sesuai dengan etika yang ada tapi mereka tak mau disalahkan, bisa jadi kalau ada siswa yang berani menyalahkan maka ancamannya adalah nilai. Bisa-bisa dikasih nilai merah dalam raportnya. Misal perbuatannya adalah: guru dengan anak duduk diatas meja, padahal perbuatan itu termasuk dhalim dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Jadi apalah daya siswa di sekolah formal. Hal ini akan berbeda dengan sekolah di alam bebas dimana siswa bisa mengungkapkan apa saja “Unek-unek” yang ada dalam pikirannya tanpa harus tertekan dengan aturan-aturan tertulis, mereka justru lebih bebas, lebih mudah berkreasi dan berekspresi.
C.    Kurikulum
Kemandirian merupakan kata kunci keberhasilan dalam sekolah alam. Manusia tidak hanya sebagai pelaksana lapangan tapi lebih menekankan pada individu itu sendiri sebagai manager terhadap dirinya. (Jadi selain manusia sebagai perencana, pelaksana, juga sebagai evaluator). Sebab dialah yang tahu tentang dirinya sendiri bukan orang lain.
Inti kurikulumnya adalah kehidupan manusia meskipun itu berbeda, namun pada dasarnya sama terbentuk oleh sebuah kecakapan. Kehidupan berusaha mempersiapkan kecakapan-kecakapan tersebut dengan teliti, dan sempurna. Kecakapan itu bermacam-macam tergantung pada tingkatan maupun jenis lingkungan. Disetiap tingkatan dan lingkungan menuntut penguasaan pengetahuan, ketrampilan, sikap, kebebasan dan apresiasi tertentu.[6]
Sekolah yang hanya memberikan sebagian kecil pengetahuan dan pendidikan bagi seseorang, baik itu bagi kehidupan sekarang atau yang akan datang karena diluar sekolahan adalah tempat sesungguhnya manusia dapat belajar dan mengenyam hakekat pendidikan.
Sangat menyedihkan sekali memang karena banyak masyarakat yang masih menganggap sekolah sebagai tempat pemujaan dan dipercaya bagi sebagian orang untuk dapat merubah hidup seseorang menjadi baik. Tapi pada kenyataannya justru dengan bersekolah malah membuat nasib seseorang semakin tidak jelas.
Dalam tinjauan Freise, tokoh pendidikan dari Brasil berpendapat bahwa sekolah-sekolah yang bersifat formal merupakan tempat bagi para peserta didik. Hal itu diakibatkan karena kewajiban yang sangat memberatkan harus dijalankan oleh para peserta didik. Salah satunya menurut Freise adalah sistem pembelajaran yang bergaya bank dan lebih bersifat vertikal.[7]

Analisis
Belajar untuk tahu menjadi basis bagi pelajar untuk dapat melakukan belajar untuk dapat melakukan merupakan basis bagi pelajar untuk mandiri. Belajar untuk mandiri merupakan basis belajar untuk bekerja sama. Tahu, dapat, mandiri, dan kemampuan bekerja sama merupakan kesatuan dan persyaratan bagi individu untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Bahwa tidak semua siswa yang tahu dapat melakukan dalam arti memiliki ketrampilan, tetapi yang dapat melakukan pasti memiliki pengetahuan. Sebagai dasar teoritik tidak semua yang dapat melakukan dapat memiliki kemandirian karena untuk menjadi mandiri memerlukan syarat lain, tapi yang memiliki kemandirian pasti memiliki ketrampilan khusus sebagai basisnya.
Lewat pendidikan ini merupakan langkah tepat untuk membuat sebuah keberhasilan suatu pendidikan. Karena dalam pendidikan ini siswa bisa mengalami dan mempraktikkan secara langsung materi pelajaran yang telah diberikannya sehingga daya ingat siswa akan menjadi kuat. Seorang guru akan mudah memberikan materi karena siswa terkait langsung dengan lingkungan alam terbuka dimana masyarakat terlibat langsung dalam pembelajaran itu. Masyarakat tidak hanya sebagai penonton pendidikan tapi sebagai pendukung dan pelaksana.

Kesimpulan
Ada anggapan bahwa daripada mengenyam pendidikan lewat sekolah formal yang pada akhirnya tak menentu mau kemana arah tujuannya, belum tentu lewat sekolah formal orang bisa langsung bekerja dibanding dengan orang yang punya pengalaman banyak tentang dunia nyata maka banyak orang yang enggan untuk seolah di formal.
Pendidikan dalam arti luas adalah masyarakat dan segala bentuk kesosialannya. Pendidikan merupakan sebuah pengalaman yang tak terbatas dalam waktu dan bentuk adalah bersifat random. Yakni terjadi kapanpun sepanjang kurun waktu usia hidup dimanapun kapanpun dalam kehidupan manusia. Pendidikan diarahkan untuk membangun masyarakat. Pembangunan masyarakat adalah proses pendidikan masyarakat yang menginginkan perbaikan, perkembangan, perubahan, dan tantangan dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

DAFTAR PUSTAKA
Freire, Paulo, Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
Mudyhardjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Rosda Karya, Bandung, 2001.
Mulyasa, E., MBS, Rosda, Bandung, 2003.
O’neil, William F., Ideologi Pendidikan, alih bahasa, Omi Intan Naomi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
Partanto, Pius A., dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Arloka, Surabaya, 1994.
Sukmadinata, Syaudih, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Rosda Karya, Bandung, 1999.
Umberto, Sihombing, Pendidikan Berbasis Masyarakat, CV. Multi Guna, Jakarta, 2002.


[1] Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Arloka, Surabaya, 1994, hal. 752
[2] Redja Mudyhardjo, Filsafat Ilmu Pendidikan, Rosda Karya, Bandung, 2001, hal. 146
[3] Sihombing Umberto, Pendidikan Berbasis Masyarakat, CV. Multi Guna, Jakarta, 2002, hal. 1
[4] E. Mulyasa, MBS, Rosda, Bandung, 2003, hal. 152
[5] William F. O’neil, Ideologi Pendidikan, alih bahasa, Omi Intan Naomi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. XVII
[6] Syaudih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Rosda Karya, Bandung, 1999, hal. 28
[7] Paulo Freire, Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan and Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
Share:

Tuesday, 19 May 2015

PERUMUSAN TUJUAN DAN MENETAPKAN KATEGORI KEBUTUHAN


Tiap rencana harus mempunyai tujuan agar diketahui apa yang harus dicapai. Tujuan juga memberi pengajaran apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya. Tujuan juga merupakan patokan untuk mengetahui hingga mana tujuan itu telah dicapai.
Apalagi dalam pengembangan kurikulum mengenai nasib jutaan anak, tujuan itu sangat penting yang harus di tanggapi secara serius. Dalam perencanaan kurikulum dewasa ini, perumusan terhadap perumusan tujuan merupakan ciri yang paling menonjol. Kita ketahui bahwa kurikulum 1997 dinyatakan berorientasi pada tujuan. Ini tidak berarti bahwa sebelumnya tujuan itu tidak dipertimbangkan dalam pendidikan dan pengajaran.
Masalah tujuan dalam kurikulum bahkan dalam tiap penerimaan pelajaran sejak dulu sesuatu yang lazim. Namun aspek tujuan dalam pengembangan kurikulum menonjol, karena usaha untuk mengkhususkan tujuan itu, sehingga jelas. Dalam hal ini tokoh-tokoh seperti Ralph Tyler (1949) dan Benyamin Bloom (1956) mempunyai pengaruh yang besar sekali.[1]
Tujuan kurikulum tiap satuan pendidikan harus mengacu kearah pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana telah dititipkan dalam UU No. 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas.
Dalam skala yang lebih luas, kurikulum merupakan alat pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Kurikulum memberikan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tingkat tujuan pendidikan nasional khususnya, dan sumber daya manusia yang berkualitas umumnya.[2]

PEMBAHASAN
Dalam menentukan kurikulum dan membuat perumusan kurikulum haruslah melihat kebutuhan masyarakat dan pangsa pasar yang ada. Dalam bukunya Peter F. Olivia, dijelaskan mengenai penentuan kategori kebutuhan diklasifikasikan menjadi empat, dilihat dari:
1.      Tingkat Kebutuhan Siswa
Pada klasifikasi ini dibedakan dalam beberapa tingkat, yaitu:
-          Tingkat kebutuhan individu (Human – manusia umumnya)
-          Tingkat kebutuhan negara atau nasional
-          Tingkat propinsi atau kabupaten atau kota
-          Tingkat masyarakat (lingkungan sekitar)
-          Tingkat sekolah
-          Tingkat individual atau personal (pribadi)
2.      Tipe Kebutuhan Siswa
Penentuan kategori kebutuhan siswa dilihat dari tipe atau bentuknya, dibedakan menjadi:
-          Fisik (Hal-hal yang berkaitan dengan biologis manusia, seperti makan, minum, dan lain-lain)
-          Sosio psikologi (Hal-hal yang berkaitan dengan hubungan interaksi sosial dan kebutuhan psikologis atau kejiwaan)
-          Pendidikan (Fokus pada pertumbuhan dan perkembangan siswa, terutama pada aspek physic dan sosio-psikologi)
-          Developmental Tasks (maksudnya individu seharusnya menjadi independent dan responsible terhadap perkembangan lokal terkait dengan peningkatan status sosial atau job social)
3.      Tingkat Kebutuhan Masyarakat
Dalam level ini Need Assessment, dibedakan dalam beberapa tingkat, yaitu:
a.       Human
b.      Internasional
c.       Nasional
d.      Negara
e.       Masyarakat atau komunitas
f.       Lingkungan tempat tinggal
4.      Tipe-Tipe Kebutuhan
Beberapa tipe kebutuhan sosial (masyarakat) yang mempunyai indikasi terhadap kurikulum, yaitu:
a. Politik                e. Lingkungan
b. Sosial                 f. Pertahanan dan keamanan
c. Ekonomi                        g. Kesehatan
d. Pendidikan                    h. Moral dan spiritual
Conducting A Needs Assessment
Definisi simple (sederhana) dan sebuah penetapan kebutuhan kurikulum adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang bersifat progresif yang harus diarahkan oleh perancang kurikulum.[3]
Needs assessment is a process of defining the desired end (or discome product or result) of a giver sequence of curriculum development.
Dijelaskan pula oleh Prof, Dr. S. Nasution, bahwa dalam penentuan kategori kebutuhan dibagi menjadi dua, yakni kebutuhan siswa atau anak dan masyarakat. Kurikulum yang sehat tidak mungkin direncanakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan anak. Ada kurikulum yang semata-mata didasarkan pada kebutuhan anak yang disebut “child – centered curriculum”. Ditinjau dari sudut-sudut psikologis didaktis kurikulum serupa ini mempunyai segi-segi yang baik, sebab apa yang diajarkan sesuai dengan keinginan dan minat anak. Anak-anak diikutsertakan dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Bermacam-macam caranya untuk membagi kebutuhan anak, salah satu cara yang sederhana ialah membaginya atas:
a.       Kebutuhan jasmaniah
Setiap anak ingin bergerak dan menggunakan bidangnya. Anak-anak suka berlari-lari, melompat-lompat, memanjat-manjat, dan melakukan aktifitas-aktifitas jasmaniah lain. Kebutuhan ini dipenuhi dengan memberikan pendidikan jasmaniah. Dalam arti modern, pendidikan jasmani bertujuan mendidik manusia, yakni mewujudkan tujuan pendidikan dengan menggunakan kejasmanian sebagai titik bertolak, akan tetapi tujuan khusus yaitu membentuk manusia yang sehat dan kuta merupakan aspek yang penting pula.
b.      Kebutuhan pribadi
Anak-anak mempunyai dorongan untuk memuaskan keinginan untuk mengetahui sesuatu untuk menyatukan pikiran dan perasaannya dengan jalan bahasa, pekerjaan, lukisan, seni suara atau gerak gerik. Setiap anak ingin diakui dan dihormati sebagai individu yang mempunyai tempat dan hak dalam masyarakat sekolah, rumah tangga, dan dunia sekitarnya. Dorongan ini mudah kita lihat pada setiap anak, di sekolah dorongan ini sering didukung dan ditekan agar murid-murid tidak melanggar disiplin. Kebebasannya dibatasi oleh hak-hak orang lain yang juga merupakan haknya, yakni: kelas itu dijadikan semacam laboratorium atau ruang kerja dimana anak-anak belajar dalam suasana yang lebih leluasa.
c.       Kebutuhan sosial
Membimbing anak agar ia menjadi makhluk sosial ialah suatu fungsi sekolah yang amat penting. Bila ini kita ketahui, maka kita memfungsikan manfaat cara yang dipakai sekolah yang memaksakan murid-murid duduk diam, melarang mereka memberikan pelajaran serta membantu dalam memecahkan suatu soal. Di sekolah lebih diutamakan persaingan daripada gotong royong. Sekolah harusnya dijadikan suatu masyarakat tempat murid-murid mempraktekkan hak dan kewajiban anggota-anggota manusia yang demokratis. Human relationship atau hubungan antar manusia mendukungnya harus lebih dipentingkan di sekolah.[4]
Kebutuhan yang kedua adalah kebutuhan masyarakat. Masyarakat manusia berubah dan terus menerus akan berubah. Masyarakat kita sekarang jauh berlainan daripada masyarakat nenek moyang kita dan berlainan pula dengan masyarakat yang akan dihadapi oleh anak cucu kita pada masa depan, segala perubahan itu sedikit banyak mempengaruhi cara hidup dan cara berfikir manusia. Karena kemajuan dalam lapangan pengangkutan dan perhubungan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik dapat juga mengandung bahaya, apabila disalahgunakan. Sekolah tidak dapat menetapkan materi untuk masalah-masalah internasional yang juga mengenai diri setiap orang. Sekolah hendaknya turut serta memberi sumbangan kearah terciptanya dunia yang bahagia bagi seluruh umat manusia. Masyarakat dinamis dan senantiasa akan berubah. Oleh karena itu, sekolah harus mempersiapkan anak-anak untuk masyarakat, maka kurikulum seharusnya disesuaikan dengan gerak-gerik perubahan masyarakat. Ini kurikulum harus senantiasa dapat berubah sesuai dengan perubahan masyarakat. Karena kurikulum harus dinamis dan ini hanya mungkin dengan bentuk kurikulum. Dengan demikian, kurikulum itu cukup elastis, sehingga senantiasa terbuka kesempatan untuk memberikan bahan pelajaran yang penting dan perlu bagi murid-murid pada saat dan tempat tertentu, karena itu, kurikulum tidak dapat ditentukan secara mutlak dan uniform untuk semua sekolah dalam bentuk suatu rencana pelajaran disukai yang harus diikuti oleh guru hingga detail yang sekecil-kecilnya.[5]
Sifat sekolah masyarakat tidak ditentukan oleh tempatnya di kampung atau di Kota atau oleh bentuk atau besarnya. Menurut Olson, ciri-cirinya community school ialah sebagai berikut:
1.      Sekolah itu memperbaiki umur kehidupan setempat pada saat ini.
2.      Sekolah itu menggunakan masyarakat sebagai laboratorium tempat belajar.
3.      Gedung sekolahan itu menjadi pusat kegiatan masyarakat.
4.      Sekolah itu mendasarkan kurikulum pada proses dan problem kehidupan dalam masyarakat.
5.      Sekolah itu mengikutsertakan orang tua dalam urusan-urusan sekolah.
6.      Sekolah itu ikut turut serta mengkoordinasikan masyarakat.
7.      Sekolah itu dapat melaksanakan dan menyebarkan filsafat negara. [6]
Dalam menentukan dan merumuskan tujuan kurikulum ada sejumlah sumber yang dapat digunakan, yakni:
1.      Falsafah bangsa
Falsafah bangsa Indonesia adalah Pancasila. Oleh karena itu, rumusan tugas kurikulum harus mencerminkan dan mengupayakan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai-nilai tersebut harus menjiwai dalam setiap rumusan tujuan kurikulum, yakni tujuan kelembagaan pendidikan, tujuan mata pelajaran dan tujuan pengajaran / instruksional.
2.      Strategi pembangunan
Pendidikan selalu di pandang sebagai “human investment”, yakni sumber daya manusia yang akan menentukan keberhasilan pembangunan-pembangunan pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang merata material dan spiritual. Makna dan hakekat tersebut hanya tercermin dalam tujuan kurikulum, sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki potensi untuk melaksanakan pembangunan.
3.      Hakekat anak didik
Tujuan pendidikan dan tujuan kurikulum pada dasarnya untuk anak didik. Oleh karena itu memperhatikan kepentingan anak didik dalam merumuskan dan menetapkan tujuan pendidikan sangat diperlukan. Kemampuan, minat dan perhatian, sikap dan perilaku serta ciri kepribadian anak didik merupakan dimensi-dimensi untuk diperhatikan.
4.      Ilmu pengetahuan dan teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi menentukan kehidupan manusia yang serba modern ini. Dengan ilmu dan teknologi memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Mengingat pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi, pendidikan harus sanggup mengadaptasinya sehingga manusia / anak didik dapat menguasainya sebagai modal dasar kehidupannya sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat tempat ia hidup.[7]
Sedangkan menurut Hilda Taba sebagaimana yang dikutip oleh Nasution, sumber-sumber tujuan ada tiga, yaitu:
1.      Kebudayaan masyarakat
2.      Individu
3.      Mata pelajaran disiplin ilmu.[8]
Perumusan Tujuan
Agar suatu tujuan dapat diwujudkan, diinginkan agar perumusannya spesifik. Tiap mata pelajaran mempunyai sejumlah tujuan, seperti menghargai keindahan karya sastra. Namun tujuan serupa itu masih dianggap umum dan harus lagi dirinci, dispesifikkan, sehingga berupa bentuk kelakuan yang dapat diamati dan dengan demikian dapat pula diukur taraf ketercapaiannya.[9]
Perumusan tujuan menurut Hilda Taba
Hilda Taba dalam Curriculum Development memberikan petunjuk-petunjuk yang berikut dalam merumuskan tujuan, sebagai berikut:
1.      Proses mental, yaitu metode untuk melakukan sesuatu produk, bahan yang bertalian dengan itu.
2.      Tujuan yang kompleks harus lebih dispesifikkan, sehingga lebih jelas bentuk kelakuan yang diharapkan
3.      Dalam merumuskan tujuan harus dinyatakan bentuk kelakuan yang diharapkan dan kegiatan belajar itu.
4.      Tujuan lebih bersifat development, yaitu tidak dapat dicapai sekaligus, akan tetapi harus dikembangkan secara kontinu
5.      Tujuan hendaknya realistis, dalam arti bahwa tujuan itu benar-benar dapat dicapai anak pada tingkat dan usia tertentu, atau selama jam pelajaran, atau selama belajar di sekolah itu.
6.      Tujuan harus meliputi segala aspek perkembangan anak yang menjadi tanggung jawab sekolah.
Sedangkan menurut Benyamin Bloom, bahwa tujuan itu di bagi dalam tiga ranah, yaitu:
1.      Tujuan-Tujuan Kognitif
Meliputi segi intelektual dan proses kognitif, yakni: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, menyintesis dan mengevaluasi.
2.      Tujuan-Tujuan Afektif
Berkenaan dengan kesadaran akan sesuatu, perasaan dan penilaian tentang perasaan, yang meliputi: memperhatikan, merespons, menghargai, mengorganisasi nilai, dan mengkarakterisasi nilai-nilai.
3.      Tujuan-Tujuan Psikomotorik
Meliputi tingkat kegiatan sebagai berikut:
a.       Melakukan gerakan fisik
b.      Menunjukkan kemampuan perseptual tentang visual, auditif, taktikal, kinestetik, serta mengkoordinasi seluruhnya.
c.       Memperlihatkan kemampuan fisik
d.      Melakukan gerakan yang terampil serta terkoordinasi dalam permainan, olahraga dan kesenian
e.       Mengadakan komunikasi non-verbal.[10]
Ketiga ranah belajar harus diperhatikan dengan cermat dalam perumusan tujuan umum, TIU, TIK. Tujuan mata pelajaran atau mata kuliah menentukan tujuan umum mata pelajaran itu. TIU dan TIK kemudian dirumuskan sesuai atau konsisten ini. Tujuan umum sering menunjukkan tingkat kognitif dan afektif tingkat tinggi. Akan tetapi bila tidak ada TIU dan TIK yang dirumuskan dengan jelas serta konsisten dengan tujuan umum, maka hasilnya tidak akan tercapai dan karena itu tidak memuaskan.[11]
Secara hierarki, tujuan pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Tujuan pendidikan nasional
b.      Tujuan institusional
c.       Tujuan kurikuler
d.      Tujuan Instruksional yang terdiri dari :
1.      Tujuan instruksional umum (TIU)
2.      Tujuan instruksional khusus (TIK)[12]
Dalam merumuskan TIK, ada beberapa kriteria, menurut Mager (1975: 21), rumusan tujuan instruksional yang baik harus memenuhi 3 syarat, yaitu :
1.      Performance, tujuan instruksional selalu menyatakan apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa, jadi harus berbentuk tingkah laku siswa yang dapat diamati dan diukur.
2.      Conditions, tujuan instruksional menyatukan pula dalam kondisi yang bagaimana tingkah laku tersebut diharapkan akan terjadi.
3.      Criterion, dalam rumusan instruksional secara gambar suatu kriteria, sampai seberapa jauh penampilan tingkah laku siswa di harapkan.
Secara lebih terperinci, syarat-syarat perumusan TIK yang dikemukakan Mager dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Harus menggunakan kata kerja operasional, seperti :
Murid dapat menyebutkan……………
Menuliskan……………..
Memilih……………….
Membedakan…………………..
Membandingkan………………
2.      Harus dalam bentuk hasil (produk)
3.      Harus berbentuk tingkah laku siswa
Tujuan Instruksional
Proses Mengajar
1.    Siswa dapat menyebutkan dengan tepat seperti fungsi termometer
2.    Siswa dapat menghitung luas bujur sangkar yang diketahui panjang salah satu sisinya
1.    Mengajarkan kepada siswa fungsi termometer

2.    Mengajarkan kepada siswa cara menghitung bujur sangkar
4.      Sebaiknya hanya meliputi satu jenis tingkah laku
5.      Harus jelas batas atau tingkah laku yang dituntut terhadap siswa
Disini Bloom juga mengaitkan perumusan tujuan dengan ketiga ranah menuju enam tegak kemampuan.
1.      Kemampuan ingatan (Knowledge)
2.      Kemampuan pemahaman (comprehension)
3.      Kemampuan penerapan (application)
4.      Kemampuan penguraian (analysis)
5.      Kemampuan penyatuan (synthesis)
6.      Kemampuan penilaian (evaluation)[13]
Kemudian penyusunan TIK perlulah memperhatikan pedoman / ketentuan atau kriteria, sebagai berikut :
a.       Merumuskan tujuan tersebut pada perubahan tingkah laku murid
b.      Memper khusus tujuan tersebut dalam bentuk yang lebih konkrit dan terbatas
c.       Memperhatikan kondisi selama tingkah laku itu berlangsung
d.      Menentukan standard minimal yang diharapkan dari tingkah laku tersebut.[14]
Mengingat rumusan tujuan pengajaran dibuat oleh guru, maka guru harus memahami tiga hal pokok, yakni:
a.       Ia harus mempelajari kurikulum, sebab bahan yang harus diajarkan dan tujuan umum bahan tersebut ada dalam kurikulum khususnya GBPP.
b.      Memahami tipe-tipe hasil belajar sebab tujuan pengajaran pada hakekatnya adalah hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa.
c.       Cara merumuskan tujuan pengajaran, sehingga tujuan tersebut jelas isinya dan dapat dicapai oleh siswa setelah siswa menerima pengajaran tersebut.[15]

KESIMPULAN
Ketika kebutuhan masyarakat mulai berkembang. Maka pendidikan yang ada juga harus dapat mengikuti perkembangan tersebut. Dan oleh karena itu yang jadi awal dari perubahan perkembangan ini adalah kurikulum. Bagaimana kurikulum yang baik itu? Tentu saja yang mempunyai landasan dan dasar yang jelas. Dan harus mempunyai pula rumusan yang jelas. Selain itu juga ada kriteria, yang akan menjadikan kurikulum itu baik.
Menurut Hilda Taba dalam merumuskan tujuan, harus menyangkut beberapa hal yaitu proses mental, tujuan yang kompleks, tujuan yang bersifat “development”, realistis dan meliputi segala aspek perkembangan anak. Sedang menurut Benyamin Bloom, membagi rumusan itu dalam tiga ranah yang kesemuanya harus saling terkait.


DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. S. Nasution, MA., Asas-Asas Kurikulum, Bandung: CV. Jemmars, 1980.
________, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 1989.
________, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta : Gema Insani, 1995.
________, Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003.
Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Petter F. Olivia, Developing The Curriculum, New York: Harper Collins Publisher, 1992.
Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : CV. Sinar Baru, 1991.
________, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2002.
Dra. Subandiyah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993.
Drs. M. Ngalim Purwanto, MP., Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995.
Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993.


[1] Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003, hlm. 39-40
[2] Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2001, hlm. 24
[3] Petter F. Olivia, Developing the Curriculum, New York: Harper Collins Publisher, 1992, hlm. 218
[4] Prof. DR. S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Bandung: CV. Jemmars, 1980, hlm. 55-58
[5] Ibid, hlm. 68-69
[6] Ibid, hlm. 71-73
[7] Dr. Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung : Sinar Baru Algensindo, 2002, hlm. 22-23
[8] Prof. Dr. S. Nasution, MA., op.cit., hlm. 40
[9] Ibid., hlm. 43
[10] Prof. Dr. S. Nasution, MA., Asas-Asas Kurikulum, Jakarta : Gema Insani, 1995, hlm. 47-51
[11] Prof. Dr. S. Nasution, MA., Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 1989, hlm. 74
[12] Dra. Subandiyah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993, hlm. 5
[13] Drs. M. Ngalim Purwanto, MP., Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995, hlm. 43-47
[14] Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993, hlm. 141-142
[15] Dr. Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : CV. Sinar Baru, 1991, hlm. 61
Share:

Featured post

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan ( hereditas ) Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartik...

Popular Posts

Pageviews

Powered by Blogger.