Thursday, 17 November 2016

MEMELIHARA PERSAUDARAAN

Salah satu ajaran pokok dalam Islam ialah bahwa manusia itu berasal dari satu keturunan, yaitu keturunan Nabi Adam as. Berbedanya bangsa dan bahasa, tidak samanya warna kulit, dan adat-istiadat yang beraneka ragam bukan untuk membeda-bedakan mereka, tetapi merupakan salah satu jalan untuk saling membina dan salah satu jalan untuk saling mendekati, saling membina dan saling tukar pengalaman untuk kepentingan mereka sendiri.
Demikian pula berbedanya agama dan kepercayaan janganlah menyebabkan putus hubungan, hidup rukun dengan sesama manusia harus benar-benar dilaksanakan, sebab Islam telah mengajarkan bahwa hidup di dunia ini harus tenteram, damai, jauh dari permusuhan dengan tetap teguh memegang identitas diri masing-masing. Khusus bagi sesama mukmin dan muslim, Islam telah meletakkan dasar yang kuat untuk memelihara persaudaraan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara langsung, praktis dan edukatif, diikat oleh kesamaan akidah. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Hujurat ayat 10:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Sikap persaudaraan bukan hanya sekedar doktrin atau ajaran, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga keakraban sesama muslim dapat terlihat, saling membantu dan saling memperhatikan.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ada lima hal yang dapat mengokohkan dan mengeratkan persaudaraan sesama muslim itu, yaitu:
1.      Mengucapkan salam
Apabila bertemu antara seorang muslim dengan muslim lainnya, dianjurkan kepada salah seorang diantara mereka mengucapkan salam, dan wajib bagi yang lainnya untuk menjawabnya. Ucapan salam ini diucapkan apabila mereka bertemu atau akan berpisah. Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa’ ayat 86 menyatakan:

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.
Saking pentingnya salam, Islam menetapkannya menjadi rukun dalam menutup ibadah shalat, sehingga tidak akan sah shalat seseorang apabila tidak ditutup dengan ucapan salam.
Setiap orang muslim yang tidak mengucapkan salam apabila bertemu dengan saudaranya, dapat dianggap belum memenuhi tatacara pergaulan secara Islam. Walaupun hukumnya tidak wajib dan tidak berdosa apabila tidak mengucapkannya, tetapi orang yang mengabaikan ucapan salam itu perlu diingatkan dengan cara yang bijaksana. Demikian pula apabila kita memasuki suatu pertemuan atau keluar dari suatu pertemuan disunahkan mengucapkan salam.
2.      Menjenguk orang sakit
Yang kedua, yang menjadi pengikat persaudaraan sesama muslim ialah menjenguknya apabila sakit, sebab dengan menjenguk yang sakit ada beberapa manfaat yang dapat dipetik:

  • Memperlihatkan turut berduka atas penyakit yang dideritanya
  • Menguatkan dan lebih dapat mempererat persaudaraan
  • Menghibur yang sakit agar bersabar dan berbesar hati.
Sikap seperti itu dapat menyebabkan lebih dekatnya persaudaraan antara yang menjenguk dan yang dijenguk. Hal ini merupakan manfaat nyata yang sifatnya lahiriah, sedangkan kalau dilihat dari segi batiniah, menjenguk orang sakit merupakan ibadah, berupa amal saleh yang dapat dijadikan bekal kita di akhirat, bahkan pahalanya sangat besar sehingga para malaikat turut mendoakan agar orang-orang yang menjenguk orang sakit dosanya diampuni oleh Allah SWT.
3.      Takziah kepada orang yang meninggal
Takziah kepada orang yang meninggal sangat dianjurkan oleh ajaran Islam, bahkan alangkah baiknya apabila turut serta menyalatkan dan terus mengantarkannya ke kuburan, sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya:

Barang siapa yang menyaksikan jenazah kemudian turut serta menyalatkannya maka baginya mendapat satu bagian, dan barang siapa yang menyaksikan jenazah sampai mengantarkannya ke kuburan mereka mendapat dua bagian. Rasulullah ditanya, apakah yang dimaksud dua bagian itu? Rasul menjawab, seperti dua gunung yang besar (pahalanya). (HR. Mutaffaqun ‘alaih)
Pengaruh atau manfaat takziah itu ada dua macam, yaitu:

  • Mengingatkan manusia kepada Tuhannya, sebab bagi orang yang hidup kejadian tersebut bisa menjadi peringatan kepadanya yang dapat menimbulkan keinsafan bahwa umur manusia itu telah ditetapkan oleh Allah, sementara ajal manusia tidak ada yang tahu kapan datangnya.
  • Mempererat hubungan dengan sesamanya, khususnya dengan keluarga yang sedang dilanda duka-cita, dengan adanya takziah kesedihannya akan berkurang.
4.      Memenuhi undangan
Berbagai macam undangan dari sesama muslim yang biasa datang kepada kita, seperti undangan pengajian, undangan syukuran, undangan pertemuan, undangan pernikahan dan sebagainya. Undangan tersebut mungkin harus kita penuhi, sebab dengan menghadiri undangan dapat mempererat persaudaraan sesama muslim. Apabila kita berhalangan dan tidak dapat memenuhi undangan tersebut, usahakanlah memberitahukannya, sehingga ketidakhadiran kita tidak menimbulkan berbagai macam prasangka bagi yang mengundang, dan lebih jauhnya untuk menghindari renggangnya tali persaudaraan.
5.      Mendoakan orang yang bersin.
Kelima, yang diharapkan dapat mempererat persaudaraan adalah mendoakan saudara kita apabila ia bersin. Apabila yang bersin mengucapkan alhamdulillah, maka yang mendengar hendaklah mengucapkan yarhamukallah apabila yang bersin laki-laki, yarhamukillah bagi yang bersin perempuan. Kemudian yang bersin menjawabnya dengan yahdikumullah wayuslih baalakum.
Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang yang bersin tidak mengucapkan alhamdulillah, janganlah didoakan”. (HR. Muslim). Demikian pula kalau yang bersin bukan orang Islam, tidak boleh kita doakan dengan ucapan yarhamukallah, sebab orang Yahudi pernah sengaja bersin di hadapan Rasulullah dengan harapan ingin didoakan dengan ucapan yarhamukallah, tetapi mendoakannya dengan ucapan yahdikumullah wayuslih baalakum.
Share:

Monday, 14 November 2016

MEMELIHARA AGAMA

Kita mengetahui bahwa agama Islam merupakan aturan Allah yang diberikan kepada manusia, sehingga dengan aturan tersebut manusia mengetahui perbedaan antara halal dan haram, manfaat dan mudharat, baik dan jelek dalam arti yang sebenarnya.
Barangsiapa yang berbuat baik sebagaimana yang diajarkan Islam, dia akan mendapat pahala, di dunia dan di akhirat; dan barangsiapa yang berbuat jahat sebagaimana yang dilarang Islam, dia akan mendapat kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Apabila di dunia tidak ada agama, tentu manusia tidak mengetahui kebaikan dan kejelekan, tidak akan mengetahui halal dan haram, tidak dapat membedakan manfaat dan mudharat, bahkan tidak takut terhadap Allah. Manusia akan berbuat sekehendak hatinya, bahkan mungkin akan lebih banyak permusuhan daripada persahabatan, hubungan silaturahmi putus, jalan kehidupan rusak, sehingga hidup manusia akan menyerupai kehidupan hewan.
Oleh karena itu, agama adalah pemimpin manusia, memberi petunjuk cara mengatur kehidupan, mengatur hak dan kewajiban sesamanya agar manusia selamat di dunia dan bahagia di akhirat.
Islam mendidik dan memberitahu manusia bahwa mereka merupakan makhluk Allah yang paling utama dibandingkan makhluk lain, sehingga apabila mereka mengetahui dan menyadari keadaan dirinya yang dimuliakan Allah, tentu mereka tidak akan mau menghinakan dirinya dengan perbuatan yang menyerupai perbuatan hewan. Selain itu, Islam mendidik agar manusia memiliki kesopanan, jujur, malu berbuat dosa, memelihara amanat, berlaku adil, dan perbuatan lainnya agar manusia tetap mulia. Sebaliknya Islam juga mengajarkan bahwa berlaku curang, dusta, dan zalim merupakan sifat yang harus dijauhi, sebab bisa merusak pergaulan dan bisa memutuskan hubungan.
Dengan demikian jelaslah, agama itu mendidik manusia agar memiliki budi pekerti yang luhur dan mulia, akhlak yang utama, dan menjauhkan manusia dari sifat hina dan aniaya, sifat yang akan membahayakan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat yang akhirnya akan mengganggu ketertiban dan ketentraman umum. 
Aturan agama Islam yang tercantum dalam al-Qur’an yang diturunkan Allah, adalah untuk membongkar dan mengubah adat dan perbuatan jelek yang akan merusak jasmani dan rohani, untuk menghancurkan kebiasaan berbuat jahat yang merendahkan derajat manusia yang telah dimuliakan Allah SWT. Dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat yang menyuruh melakukan suatu perkara dengan dijelaskan manfaatnya, dan terdapat ayat-ayat yang melarang melakukan suatu perkara dengan penjelasan mudharatnya dari perkara itu apabila dikerjakan, seperti larangan berjudi, minum khamr dan sebagainya.
Demikian juga Islam memerintahkan shalat, zakat, atau puasa disertai dengan keterangan hikmah dan manfaatnya.
Ajaran Islam begitu sempurna tentu membutuhkan pemeliharaan dari umatnya, membutuhkan penjagaan agar ajarannya tetap diamalkan oleh umat manusia, baik yang hidup saat ini maupun keturunannya. Allah SWT berpesan kepada manusia agar agama ini tetap dipelihara sebaik-baiknya bahkan jangan mati kecuali dalam keadaan Islam. Allah berwasiat kepada nabi-nabi lainnya agar memelihara agama sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an, yaitu:

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. Asy-Syura: 13)
Karena memelihara agama itu penting, Allah SWT alam memberi balasan berupa siksaan terhadap orang yang murtad (orang yang keluar dari agama Islam) balasan dunia dan balasan akhirat, sehingga semua amal kebaikan yang pernah dikerjakannya hilang sama sekali, sedangkan di akhirat akan mendapat siksa yang sangat pedih dan kekal. Allah SWT berfirman:

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Kadang-kadang seorang manusia murtad beberapa kali, pada mulanya pemeluk Islam, kemudian kufur, sudah kufur kembali masuk Islam, selanjutnya kembali kufur. Imannya maju mundur, sebab selamanya dia ragu terhadap kebenaran Islam.
Share:

Saturday, 12 November 2016

KEPEMIMPINAN WANITA

Ada yang beranggapan bahwa ajaran Islam tidak adil, terutama dalam hal kedudukan kaum Hawa. Mereka tidak mengerti apa sebabnya Islam menetapkan waris terhadap laki-laki lebih besar daripada wanita. Dalam menutup aurat, wanita lebih tertutup daripada pria, hal ini dianggap bahwa Islam tidak adil.
Sebelum kita mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kaum wanita, terlebih dahulu kita harus tahu dulu bagaimana kedudukan wanita di daerah luar Islam. Agama Manu di India sama sekali tidak mengenal adanya hak wanita, hak wanita terpisah dari laki-laki, baik ayahnya, suaminya, maupun anaknya. Contoh, apabila suami meninggal, si istri harus bersatu dengan keluarga suaminya, selanjutnya dia tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupannya sendiri. Bahkan lebih kejam lagi, mereka tidak mengakui hak wanita untuk bergaul di masyarakat, dan wanita tidak berhak hidup apabila suaminya wafat, dia harus mengikuti suaminya wafat dengan cara dibakar bersama-sama. Adat kebiasaan ini berlangsung semenjak kebudayaan agama Brahmana sampai abad ke-17.
Agama Hammurabi di Babilonia beranggapan bahwa wanita merupakan hewan peliharaan yang menjadi miliki seseorang, pemiliknya bebas berbuat semaunya terhadap dia, sehingga ada hukum yang menetapkan bahwa apabila seorang wanita membunuh wanita lain, hukumannya dia harus memberikan anak perempuannya untuk dibunuh. Di lingkungan masyarakat Yunani kuno wanita sama sekali tidak memiliki kemerdekaan dan kedudukan dalam hak dan undang-undang, tempat tinggal mereka terpisah di tempat-tempat yang jalannya sempit dan dijaga ketat. Bangsa Mongol sama sekali tidak memberi hak waris kepada kaum wanita. Hanya bangsa Mesir Kuno yang pernah memberi hak yang sama antara laki-laki dan wanita, tetapi kebisaan ini hilang begitu saja sebelum Islam lahir.
Ternyata al-Qur’an sudah mengubah keadaan tersebut dengan menetapkan hak-hak wanita sesuai dengan fitrahnya dan mengangkat derajat kaum wanita menjadi sederajat dengan laki-laki, bahkan menurut Islam persamaan hak dan kewajiban antara wanita dan pria sudah digambarkan semenjak adanya Adam dan Hawa. Karena Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, keduanya diusir. Hal ini membuktikan bahwa hak dan kewajiban, bahkan sanksi atau hukuman antara wanita dan pria semenjak Adam dan Hawa diciptakan sama. Demikian juga, setelah mereka menyadari akan dosanya, keduanya memohon ampun kepada Allah.
Bahkan Islam menetapkan bahwa dosa seseorang tidak akan bisa ditanggung oleh orang lain, dan anak cucu Adam tidak memiliki dosa turunan, baik dari Adam maupun dari Hawa. Dosa wanita ditanggung dirinya sendiri, demikian juga dosa pria ditanggung dirinya sendiri, demikian juga dosa pria ditanggung dirinya sendiri.
Islam sudah berhasil menyelamatkan kaum wanita dari penguburan hidup-hidup, dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya. Dalam al-Qur’an digambarkan bagaimana nasib kaum wanita pada zaman Jahiliyah, yaitu firman Allah:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. An-Nahl: 58-59).
Islam mengubah keadaan yang paling hina dengan menetapkan kewajiban bagi setiap muslim agar berbakti terhadap kedua orangtuanya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Bagaimana sebenarnya hak-hak wanita menurut Islam? Terlebih dahulu perlu diketahui bahwa yang disebut adil itu bukan harus semua sama, tetapi keadilan bisa terwujud apabila sudah bisa membayarkan hak seseorang sesuai dengan kewajiban dan tanggungjawabnya.
Sebagai bukti bahwa Islam sudah mengajarkan hak-hak wanita sesuai dengan kewajiban dan tanggungjawabnya, Islam menetapkan bahwa wanita sama mendapat bagian dan warisan sesuai dengan tanggungjawabnya. Wanita akan mendapat pahala yang sama apabila mau beribadah dan amal shaleh, bahkan Allah menjanjikan bahwa barangsiapa yang beramal shaleh, baik pria maupun wanita disertai iman, tentu akan mendapat kehidupan yang baik dan diberi pahala yang lebih besar daripada yang dikerjakannya. Demikian juga Islam memberi hukuman yang sama terhadap pria dan wanita yang berzina atau mencuri.
Share:

Friday, 11 November 2016

ISLAM MEWAJIBKAN BEKERJA DAN ANTI PENGANGGURAN

Marilah kita selalu berusaha meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Yaitu dengan senantiasa berupaya mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran, kemauan, kesungguhan hati dan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya dengan iman dan taqwa kepada Allah inilah kita akan mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, dan ridha Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.
Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia juga akan mendapatkan al-furqan, petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, dapat membedakan antara yang bermanfaat dan mudlarat.
Dengan senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah pula kita akan senantiasa diselamatkan dan dimenangkan dari segala macam godaan setan, akhlak tercela dan perbuatan jahat sehingga dalam hidup ini senantiasa selamat dan tiada pernah menyentuh azab neraka, tidak akan mengalami kesusahan atau berduka cita.
Dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah manusia akan senantiasa dapat mempertahankan jadi dirinya sebagai makhluk Allah yang paling mulia diantara makhluk-makhluk Allah yang lain, menjadi makhluk yang berilmu pengetahuan, berketrampilan dan berkemampuan tinggi. Manusia itu sendiri pada dasarnya diciptakan Allah sebagai makhluk yang terbaik, termulia dan bermanfaat bagi alam sekitarnya. Dan selanjutnya dengan kemampuan dan ketrampilannya akan dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk mewujudkan kemakmuran, kemajuan dan kejayaan dimuka bumi ini dalam naungan rahmat, maunah dan ridha Allah.
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik dibanding dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki berbagai macam kelebihan dibanding dengan makhluk Allah lainnya, baik kelebihan dalam bentuk tubuh, pengetahuan maupun kemampuan lainnya. Kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya diantaranya adalah diberi akal, yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sah dan mana yang batal, mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat.
Dengan kemampuan dan ketrampilan itu manusia dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat bekerja secara baik dan bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki ini manusia akan senantiasa bekerja dan bekerja demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan meraih manfaat sebesar-besarnya.
Pekerjaan yang dilakukan bukanlah semata-mata bekerja namun memiliki dasar dan tujuan yang baik dan mulia. Umat Islam senantiasa melaksanakan tugas dan pekerjaan atas dasar melaksanakan perintah Allah, untuk bekal ibadah dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan yang dilaksanakan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan lahir batin di dunia dan akhirat dengan ridha Allah SWT. Karena itulah Islam mewajibkan kepada para pemeluknya, untuk bekerja secara baik, berakhlak mulia dan berprestasi unggul.
Bila manusia dapat bekerja secara baik, berakhlak mulia dan berprestasi unggul, maka dia akan dapat meraih derajat tinggi dan tempat mulia. Ia akan dihormati, dimuliakan dan disegani oleh orang-orang sekelilingnya.
Agama Islam senantiasa mendorong kepada umatnya giat bekerja dan lebih baik lagi kalau bisa menciptakan lapangan kerja. Jangan sampai umat Islam malas bekerja, tidak mau berusaha dan senang menjadi pengangguran. Kerja apa saja boleh asalkan halal dan tidak melanggar aturan agama dan undang-undang negara yang berlaku. Jangan sampai tenaga dipergunakan untuk mencari rizki dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat umumnya.
Allah sangat mencintai orang yang bekerja untuk memenuhi biaya hidup dan kehidupannya, terlebih lagi untuk bekal beribadah kepada-Nya. Sebaliknya Allah sangat membenci orang-orang yang senang menganggur, lemah, lunglai dan tidak mau berusaha sehingga menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Orang yang senang menganggur tidak hanya sekedar dibenci oleh Allah, bahkan ia disiksa Allah pada hari kiamat dengan siksaan yang sangat hebat. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya agama Islam sangat anti pengangguran. Islam sangat menekankan kepada pemeluknya untuk bekerja. Karena orang yang bekerja akan dapat menentukan derajat seseorang. Seorang yang bekerja akan ditinggikan Allah derajatnya, sebagaimana firman Allah:
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al-Ahqaf: 19)
Bekerja bukan sekedar untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup secara material semata, namun bekerja juga dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan dalam hidup dan kehidupan. Sebaliknya apabila seseorang menganggur akan memejamkan hati, menghayal yang tidak-tidak dan akhirnya bisa menjerumuskan pada perbuatan yang kurang baik.
Hati yang buta akan menjadi sarang segala bentuk kejahatan. Tidak mengetahui halal dan haram, benar dan salah, lurus dan bengkok. Hidupnya menjadi tidak menentu dan salah arah serta mudah terombang-ambing goncangan zaman. Akibatnya adalah hidupnya selalu bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa, selalu dirundung resah, gelisah dan susah serta selalu dalam kegagalan dan kegagalan. Maka tidak heran bila Allah menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang beriman dan mau bekerja dengan baik. Sebagaimana firman Allah:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau melakukan aktifitas apapun, dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia.
Oleh sebab itu, Islam sangat anti terhadap orang-orang yang senang menganggur, malas dan tidak mau melakukan aktifitas apapun. Sebaliknya Islam mewajibkan bekerja dan mencintai pekerjaan sesuai dengan bidang masing-masing. Islam tidak saja menganjurkan pemeluknya menjadi pekerja ulet, menjadi tenaga kerja yang siap pakai, bahkan dianjurkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk membantu sesamanya demi kesejahteraan umat manusia.
Umat Islam jangan hanya bangga menjadi kuli umat beragama lain namun haruslah dapat menjadi majikan di negeri sendiri. Umat Islam harus berprestasi tinggi baik dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam ketrampilan menerapkan ilmu dalam wujud amal shaleh di tengah-tengah masyarakat.
Kehidupan umat Islam yang saat ini masih berada dalam cengkeraman para kapitalis segera lepas dan bangkit menyongsong kejayaan Islam di masa depan. Umat Islam harus meningkatkan etos kerja. Pengangguran yang semakin hari semakin membludak secara pelan-pelan harus dikurangi dengan menyediakan lapangan kerja. Islam tidak mentolerir pengangguran karena menjadi beban masyarakat, bangsa dan negara. Semoga usaha ini mencapai keberhasilan dengan maunah dan ridha Allah.
Share:

Thursday, 10 November 2016

MEMELIHARA JIWA

Salah satu keutamaan hidup adalah apabila kita bisa memelihara jiwa atau diri dengan segala anggotanya, sebab apabila salah satu anggotanya rusak dan menyebabkan tidak sempurnanya diri manusia. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia, mereka menyukai kebaikan dirinya, sehingga untuk mencapai keinginan tersebut telah tercapai, tentu sebutan baik akan diperoleh.
Sebaliknya, manusia tidak menginginkan apabila dirinya mendapat sebutan jelek, bahkan tidak mau disebut orang jahat meskipun memang benar dia orang jahat. Ini merupakan satu bukti manusia mencintai dirinya lebih dari mencintai yang lain.
Agama Islam tidak melarang umatnya mencintai dirinya sendiri, bahkan menetapkan berbagai kewajiban yang harus diperbuat yang berhubungan dengan hak pribadinya. Setelah manusia mengetahui hal itu, biasanya mereka baru mencintai dirinya. Bahkan sebenarnya manusia tidak akan mencintai dirinya apabila belum mengetahui bagaimana sebenarnya kedudukan harga dirinya dalam kehidupan.
Selain itu, manusia pun harus mengetahui hak dan kewajiban serta batas-batas dirinya sebagaimana mestinya, tidak boleh berlebihan atau melewati batas, tetapi juga jangan kurang, sebab kemungkinan kena tagih.
Untuk mencapai kesempurnaan diri, ada 3 kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap manusia, yaitu:
1.      Kewajiban manusia terhadap harta benda
Setiap pribadi berhak mendapatkan harta benda untuk bekal hidupnya di dunia, seperti makanan, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, alat-alat rumah tangga, sawah, ladang, emas, perak, dan keperluan hidup lainnya. Terhadap semua harta benda ini manusia dituntut agar mengusahakan haknya dengan sungguh-sungguh melalui usaha dan bekerja disertai percaya dan yakin pada kekuatan yang ada pada dirinya sebagaimana yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.
Agama Islam sudah menentukan beberapa jalan untuk mencari dan menghasilkan kekayaan yang diperlukan manusia. Barang siapa yang mengusahakan kekayaan atau harta benda dengan jalan halal, sebagaimana yang sudah diatur Islam, maka akan mendapat pahala dari Allah dan pandangan baik dari sesama manusia. Sebaliknya barang siapa yang mengusahakan haknya dengan jalan haram, yang dilarang agama, maka akan mendapat siksa dari Allah dan pandangan jelek dari sesama manusia.
2.      Kewajiban manusia terhadap kesehatan
Ahli kesehatan mengatakan bahwa memelihara kesehatan lebih mudah dan lebih murah daripada mengobati. Oleh karena itu, kita harus menjaga kesehatan tubuh agar jangan terserang penyakit, sebab biaya pengobatannya lebih mahal daripada menjaga. Apabila penyakitnya penyakit orang kaya, penyakit yang susah mencari obatnya. Begitupun menentukan macam-macam penyakit agar tahu obatnya tidak semua orang mengetahui, hal ini tentu saja memerlukan penelitian dokter. Sebab, apabila mengobati penyakit dengan dikira-kira, menurut ilmu pengetahuan dan penelitian, bahayanya akan lebih besar daripada manfaatnya. Mengetahui suatu obat dan menentukan ukurannya bagi seseorang yang terserang penyakit bukan pekerjaan gampang, bukan pekerjaan yang diketahui oleh setiap orang. Tetapi hal itu, khususnya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang menekuni bidang itu, seperti dokter dan ahli kesehatan lainnya. Sedangkan memelihara kesehatan mungkin semua manusia bisa melakukannya, asal manusia mengetahui aturannya. Bahkan menurut pandangan Islam, memelihara kesehatan merupakan hal yang harus terlebih dahulu dilakukan sebelum melaksanakan kewajiban, sebab seseorang yang tidak sehat tentu tidak akan bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Oleh karena itu, undang-undang tidak membenarkan seseorang melaksanakan kewajiban yang diluar kekuatan dan kemampuan fisiknya, sebab hal itu akan merusak kesehatan. Apabila tubuh sudah tidak sanggup atau kecapaian oleh suatu pekerjaan, maka ia berhak istirahat agar tubuh tetap sehat, tenaga bisa berkumpul kembali sebagaimana biasa.
Apabila tubuh kita memiliki hak dari kita, berarti kita memiliki kewajiban yang harus dikerjakan untuk kepentingan tubuh kita sendiri agar tubuh tetap sehat dan kuat, jauh dari macam-macam penyakit. Apabila sudah demikian, insya Allah, amal shaleh kita akan bertambah, bermanfaat bagi umat, dan Allah akan mencintai kita.
3.      Kewajiban manusia terhadap kesopanan
Kewajiban manusia selanjutnya yaitu kewajiban untuk tetap memelihara kesopanan hidup, terutama adab dan akhlak yang mulia, dan mengisi akalnya dengan macam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. untuk memenuhi hal ini ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian dari kita, yaitu:
a. Harus mengetahui batas-batas hak diri pribadi
Mengetahui hak-hak pribadi dan batas-batasnya, seperti batas-batas pengetahuan manusia, batas kekuatan anggota badan, batas tingkat derajat dan keunggulan dari yang lain. Gunanya mengetahui batas-batas ini agar kita selaku manusia tidak menjerumuskan diri sendiri ke jurang kehinaan dan kebinasaan. Manusia harus berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang di luar kemampuan akalnya, ilmu, dan harta benda.
Orang yang mengetahui batas-batas dirinya, bisa terlihat dalam tutur kata, amal perbuatan, sopan santun, atau budi pekertinya. Dia akan berbicara berdasarkan kemampuan pengetahuannya, tidak pernah bicara sok tahu atau sejenisnya. Dengan cara itu, dia tentu akan mendapat penghargaan dari orang lain. Dia sudah bisa memperlihatkan kelebihan dirinya berdasarkan batas-batas tertentu yang dimilikinya; tidak pernah sombong karena keturunannya. Demikian juga dalam bekerja berdasarkan kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya, tidak pernah memaksakan diri melakukan hal-hal yang diluar kemampuannya.
Sebaliknya orang bodoh tidak mengetahui batas-batas kemampuan dirinya, bisa terlihat dari tutur kata dan tingkah lakunya. Apabila berbicara, yang dikatakan hal-hal yang tidak diketahui dengan sebenarnya.
b. Mencintai dirinya
Mencintai diri sendiri berarti berusaha agar bisa memperoleh kebaikan dan menghindari kejelekan yang akan mencelakakan diri sendiri. Tidak akan ada yang disayangi, dikasihi, dicintai, dan dihormati kecuali diri sendiri. Apabila tidak ada rasa hormat, sayang, dan cinta terhadap diri sendiri, tentu tidak akan ada manusia yang memperoleh keuntungan dan tidak akan bertemu dengan kebahagiaan, sebab mungkin takkan ada yang mau bekerja dan berusaha mencari rezeki, kedudukan dan keutamaan.
c. Menghormati diri sendiri
Menghormati diri sendiri yaitu melakukan pekerjaan yang menyebabkan orang lain menghormati kita, seperti sopan santu, tingkah laku yang sesuai dengan aturan pergaulan, adat kebiasaan, terutama yang sesuai dengan aturan agama. Hormat kepada orang tua, menyayangi sesama, jujur terhadap sahabat dan kerabat, rela ditegur apabila berbuat salah, suka memberi nasehat, lisan tidak pernah mencela, tidak pernah menghina sesama manusia meski bagaimanapun keadaannya.
Orang seperti ini akan mendapat penghormatan dari orang lain yang berarti dia sudah bisa menghormati dirinya sendiri, sebab penghormatan orang lain itu bergantung kepada penghormatan kita kepada orang lain. Sebaliknya apabila kita tidak memperlihatkan akhlak yang mulia, tidak melakukan kebaikan, tidak menghargai orang lain, maka orang lain pun takkan mau menghormati dan menghargai kita.
Share:

CIRI-CIRI MUTTAQIN (ORANG YANG BERTAQWA)

Di dunia ini ada satu golongan umat manusia yang dicintai Allah SWT, golongan yang akan dimudahkan jalan kehidupannya di dunia dan akan diberi kebahagiaan di akhirat, bahkan golongan ini akan diberi jalan keluar dari berbagai macam kesulitan hidup dan diberi rezeki yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Golongan ini tiada lain yaitu golongan manusia yang disiplin, taat dan patuh terhadap aturan Allah, golongan yang konsekuen dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Golongan ini dalam Islam disebut muttaqin. Marilah kita perhatikan firman Allah SWT:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Berbagai macam kesulitan hidup memang akan dialami oleh seorang manusia, kesulitan hidup dalam bidang perusahaan, pekerjaan, rumah tangga, pergaulan, pendidikan, dan sebagainya. Bagi orang yang taqwa akan diberi jalan keluar untuk menyelesaikan kesulitan tersebut, minimal bisa mengurangi kesulitan itu. Oleh sebab itu, setiap Jum’at khatib berwasiat agar tetap bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Bagaimana yang disebut taqwa itu? Manusia yang memiliki sifat dan ciri yang bagaimana yang akan diselamatkan di dunia dan di akhiratnya?
Banyak sekali ciri-ciri taqwa dalam al-Qur’an, bahkan tidak kurang dari seratus macam kata yang menerangkan ciri dan sifat muttaqin itu. Diantaranya berdasarkan surat Ali Imran ayat 134-135 ada 4 syarat ciri muttaqin, yaitu:
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
1.      (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
Apabila seorang hartawan menginfakkan hartanya ratusan ribu rupiah kedengarannya tidak aneh. Tetapi apabila ada seseorang yang hidupnya selamanya kekurangan, tetapi dia menyisihkan harta yang sedikit itu untuk infak, maka yang seperti ini baru bisa disebut kejutan. Pantaslah Allah memberi gelar muttaqin terhadap orang yang seperti ini.
2.      Ciri taqwa yang kedua yaitu dan orang-orang yang menahan amarahnya.
Setiap orang memang sering marah, sifat ini biasanya timbul apabila menemukan persoalan yang tidak sesuai dengan keinginan. Amarah ini merupakan pengaruh setan, sedangkan setan itu berasal dari api. Ada api yang cepat menyala dan cepat padam, ada juga api yang susah menyala dan susah padam, ada api yang cepat menyala tetapi susah padam, bahkan ada yang susah menyala tetapi cepat padam; demikian juga manusia ada yang mudah marah dan susah hilang, mudah marah mudah hilang, susah marah tetapi mudah hilang, bahkan ada yang susah marah dan susah hilang.
3.      Ciri taqwa yang ketiga adalah “mema’afkan (kesalahan) orang”.
Tidak akan disebut insan apabila tidak pernah nisyan, tidak akan disebut manusia apabila tidak pernah salah. Yang namanya manusia pasti berbuat salah. Oleh karena itu, setiap muslim harus pemaaf. Allah SWT pun sangat pemaaf terhadap manusia. Manusia yang taqwa yaitu yang mencontoh sifat Allah dalam hal memaafkan kesalahan orang lain.
Apa sebabnya kita harus saling memaafkan dan saling membebaskan dosa? Sebabnya tiada lain dosa yang tidak diminta maafnya di dunia akan menjadi beban di akhirat. Oleh karena itu, masalah saling memaafkan ini tidak bisa disepelekan oleh kita, terutama yang ingin mendapat sebutan muttaqin.
4.      Ciri taqwa yang keempat yaitu:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu.
Apabila kita akan mencari orang yang tidak pernah salah atau tidak pernah berdosa, rasanya tidak akan menemukan. Oleh karena itu orang yang taqwa bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang apabila dalam satu waktu berbuat dosa dia cepat melakukan perkara tadi, yaitu: 1. Cepat berzikir dan mengingat Allah, 2. Setelah menyadari bahwa perbuatan itu salah, dia cepat istighfar mohon ampun kepada Allah atas perbuatan dosanya, 3. Segala dosa yang pernah dilakukan, dihentikan sama sekali, tidak pernah diulangi lagi.
Share:

Saturday, 18 June 2016

POLA ASUH ORANG TUA OTORITER (bagian 3)

Pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa kemudian hari, fokusnya lebih masa kini. Orang tua atau pengasuh primer mengendalikan anak lebih karena kepentingan orang tua atau pengasuhnya untuk memudahkan pengasuhan.
Mereka menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua atau pengasuh, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Orang tua atau pengasuh merasa tidak pernah berbuat salah. (Singgih D. Gunarsa, 1995: 29) Orang tua mau menerima dan menyayangi anak asal anak tunduk mutlak pada perintah-perintah orang tua, dan menjauhi larangan-larangan tertentu. Anak juga harus sanggup menolak atau mengingkari dorongan, impuls, dan keinginan sendiri. perasaan keinginan dan kemampuan sendiri harus ditekan atau dibuang, karena ada larangan dan tekanan-tekanan orang tua.  (Kartini Kartono, 2000: 185)
Orang tua sering tidak menyadari bahwa dikemudian hari anak-anaknya dengan pola pengasuhan otoriter mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih rumit, meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab cukupan, namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan tampak kurang percaya diri. Kebanyakan anak-anak dari pola pengasuhan otoriter melakukan tugas-tugasnya karena takut memperoleh hukuman.
Jika orang tua atau pendidik telah menggunakan pukulan atau kekerasan dalam mendidik seorang anak, maka sebenarnya dia telah menghilangkan kesempatan dalam mendidik dengan sebuah didikan yang benar, bahkan hal tersebut bukan merupakan bimbingan yang benar, tidak mengajak berfikir, dan tidak mengajak mengoreksi kebiasaan salah yang dilakukan sang anak, sehingga hasilnyapun nihil, walaupun sang anak nurut dikarenakan takut, walaupun sang anak mendengar bukan karena kewibawaannya sebagai pendidik yang benar tetapi karena takut akan pukulan dan kekerasaan, di belakang akan berkelekar dan akan timbul dendam atau ketidak hormatan sang anak terhadap orang tua tersebut. Dan tidak sedikit anak yang mendapatkan kekerasan dari orang tua, ketika berada di luar rumah mereka melampiaskannya dengan mabuk-mabukan atau bergaul dengan kesesatan karena merasa inilah jalan keluar dan yang terbaik bagi mereka. (A. Fulex Bisyri, 2004: 59)
Dalam kondisi yang ekstrim, anak laki-laki dengan pola pengasuhan otoriter sangat mungkin memiliki resiko berperilaku anti sosial, agressif, impulsif dan perilaku-perilaku maladaptif lainnya. Anak perempuan cenderung menjadi tergantung (dependent) pada orang tua atau pengasuh primernya. Terdapat beberapa anak yang kemudian menjadi kriminal atau melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang wajar. Utamanya mereka yang selain terkondisi dalam pola otoriter ditambah dengan siksaan-siksaan atau deraan-deraan fisik (Physical abuse of children). (G. Tembong Prasetya, 2003: 30) Pola pengasuhan seperti ini seringkali berulang-ulang pada generasi berikutnya (sekali lagi Intergeneration Transmission) yang berjalan dalam ketidaksadaran.

REFERENSI:
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000.
Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Pra Sekolah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
Muhammad Al-Hamd, Kesalahan Mendidik Anak, Cet. IV, Geman Insani Press, Jakarta, 2001.
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Pustaka Inti, Jakarta, 2002.
Sarumpaet, Rahasia Mendidik Anak, Indonesia Publishing House, Bandung, 1973.
A. Fulex Bisyri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid, Bandung, 2004.
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Membimbing, Cet. 8, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Kartini Kartono, Hygiene Mental, Mandor Maju, Bandung, 2000.
G. Tembong Prasetya, Pola Pengasuhan Ideal, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2003.
Share:

Featured post

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan ( hereditas ) Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartik...

Popular Posts

Powered by Blogger.