Saturday, 12 November 2016

KEPEMIMPINAN WANITA

Ada yang beranggapan bahwa ajaran Islam tidak adil, terutama dalam hal kedudukan kaum Hawa. Mereka tidak mengerti apa sebabnya Islam menetapkan waris terhadap laki-laki lebih besar daripada wanita. Dalam menutup aurat, wanita lebih tertutup daripada pria, hal ini dianggap bahwa Islam tidak adil.
Sebelum kita mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kaum wanita, terlebih dahulu kita harus tahu dulu bagaimana kedudukan wanita di daerah luar Islam. Agama Manu di India sama sekali tidak mengenal adanya hak wanita, hak wanita terpisah dari laki-laki, baik ayahnya, suaminya, maupun anaknya. Contoh, apabila suami meninggal, si istri harus bersatu dengan keluarga suaminya, selanjutnya dia tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupannya sendiri. Bahkan lebih kejam lagi, mereka tidak mengakui hak wanita untuk bergaul di masyarakat, dan wanita tidak berhak hidup apabila suaminya wafat, dia harus mengikuti suaminya wafat dengan cara dibakar bersama-sama. Adat kebiasaan ini berlangsung semenjak kebudayaan agama Brahmana sampai abad ke-17.
Agama Hammurabi di Babilonia beranggapan bahwa wanita merupakan hewan peliharaan yang menjadi miliki seseorang, pemiliknya bebas berbuat semaunya terhadap dia, sehingga ada hukum yang menetapkan bahwa apabila seorang wanita membunuh wanita lain, hukumannya dia harus memberikan anak perempuannya untuk dibunuh. Di lingkungan masyarakat Yunani kuno wanita sama sekali tidak memiliki kemerdekaan dan kedudukan dalam hak dan undang-undang, tempat tinggal mereka terpisah di tempat-tempat yang jalannya sempit dan dijaga ketat. Bangsa Mongol sama sekali tidak memberi hak waris kepada kaum wanita. Hanya bangsa Mesir Kuno yang pernah memberi hak yang sama antara laki-laki dan wanita, tetapi kebisaan ini hilang begitu saja sebelum Islam lahir.
Ternyata al-Qur’an sudah mengubah keadaan tersebut dengan menetapkan hak-hak wanita sesuai dengan fitrahnya dan mengangkat derajat kaum wanita menjadi sederajat dengan laki-laki, bahkan menurut Islam persamaan hak dan kewajiban antara wanita dan pria sudah digambarkan semenjak adanya Adam dan Hawa. Karena Adam dan Hawa melanggar larangan Allah, keduanya diusir. Hal ini membuktikan bahwa hak dan kewajiban, bahkan sanksi atau hukuman antara wanita dan pria semenjak Adam dan Hawa diciptakan sama. Demikian juga, setelah mereka menyadari akan dosanya, keduanya memohon ampun kepada Allah.
Bahkan Islam menetapkan bahwa dosa seseorang tidak akan bisa ditanggung oleh orang lain, dan anak cucu Adam tidak memiliki dosa turunan, baik dari Adam maupun dari Hawa. Dosa wanita ditanggung dirinya sendiri, demikian juga dosa pria ditanggung dirinya sendiri, demikian juga dosa pria ditanggung dirinya sendiri.
Islam sudah berhasil menyelamatkan kaum wanita dari penguburan hidup-hidup, dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya. Dalam al-Qur’an digambarkan bagaimana nasib kaum wanita pada zaman Jahiliyah, yaitu firman Allah:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. An-Nahl: 58-59).
Islam mengubah keadaan yang paling hina dengan menetapkan kewajiban bagi setiap muslim agar berbakti terhadap kedua orangtuanya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Bagaimana sebenarnya hak-hak wanita menurut Islam? Terlebih dahulu perlu diketahui bahwa yang disebut adil itu bukan harus semua sama, tetapi keadilan bisa terwujud apabila sudah bisa membayarkan hak seseorang sesuai dengan kewajiban dan tanggungjawabnya.
Sebagai bukti bahwa Islam sudah mengajarkan hak-hak wanita sesuai dengan kewajiban dan tanggungjawabnya, Islam menetapkan bahwa wanita sama mendapat bagian dan warisan sesuai dengan tanggungjawabnya. Wanita akan mendapat pahala yang sama apabila mau beribadah dan amal shaleh, bahkan Allah menjanjikan bahwa barangsiapa yang beramal shaleh, baik pria maupun wanita disertai iman, tentu akan mendapat kehidupan yang baik dan diberi pahala yang lebih besar daripada yang dikerjakannya. Demikian juga Islam memberi hukuman yang sama terhadap pria dan wanita yang berzina atau mencuri.
Share:

Friday, 11 November 2016

ISLAM MEWAJIBKAN BEKERJA DAN ANTI PENGANGGURAN

Marilah kita selalu berusaha meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Yaitu dengan senantiasa berupaya mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran, kemauan, kesungguhan hati dan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah. Kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya dengan iman dan taqwa kepada Allah inilah kita akan mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, dan ridha Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.
Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia juga akan mendapatkan al-furqan, petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, dapat membedakan antara yang bermanfaat dan mudlarat.
Dengan senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah pula kita akan senantiasa diselamatkan dan dimenangkan dari segala macam godaan setan, akhlak tercela dan perbuatan jahat sehingga dalam hidup ini senantiasa selamat dan tiada pernah menyentuh azab neraka, tidak akan mengalami kesusahan atau berduka cita.
Dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah manusia akan senantiasa dapat mempertahankan jadi dirinya sebagai makhluk Allah yang paling mulia diantara makhluk-makhluk Allah yang lain, menjadi makhluk yang berilmu pengetahuan, berketrampilan dan berkemampuan tinggi. Manusia itu sendiri pada dasarnya diciptakan Allah sebagai makhluk yang terbaik, termulia dan bermanfaat bagi alam sekitarnya. Dan selanjutnya dengan kemampuan dan ketrampilannya akan dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk mewujudkan kemakmuran, kemajuan dan kejayaan dimuka bumi ini dalam naungan rahmat, maunah dan ridha Allah.
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik dibanding dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki berbagai macam kelebihan dibanding dengan makhluk Allah lainnya, baik kelebihan dalam bentuk tubuh, pengetahuan maupun kemampuan lainnya. Kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya diantaranya adalah diberi akal, yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sah dan mana yang batal, mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat.
Dengan kemampuan dan ketrampilan itu manusia dapat menciptakan lapangan kerja dan dapat bekerja secara baik dan bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. Dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki ini manusia akan senantiasa bekerja dan bekerja demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan meraih manfaat sebesar-besarnya.
Pekerjaan yang dilakukan bukanlah semata-mata bekerja namun memiliki dasar dan tujuan yang baik dan mulia. Umat Islam senantiasa melaksanakan tugas dan pekerjaan atas dasar melaksanakan perintah Allah, untuk bekal ibadah dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan yang dilaksanakan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan lahir batin di dunia dan akhirat dengan ridha Allah SWT. Karena itulah Islam mewajibkan kepada para pemeluknya, untuk bekerja secara baik, berakhlak mulia dan berprestasi unggul.
Bila manusia dapat bekerja secara baik, berakhlak mulia dan berprestasi unggul, maka dia akan dapat meraih derajat tinggi dan tempat mulia. Ia akan dihormati, dimuliakan dan disegani oleh orang-orang sekelilingnya.
Agama Islam senantiasa mendorong kepada umatnya giat bekerja dan lebih baik lagi kalau bisa menciptakan lapangan kerja. Jangan sampai umat Islam malas bekerja, tidak mau berusaha dan senang menjadi pengangguran. Kerja apa saja boleh asalkan halal dan tidak melanggar aturan agama dan undang-undang negara yang berlaku. Jangan sampai tenaga dipergunakan untuk mencari rizki dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat umumnya.
Allah sangat mencintai orang yang bekerja untuk memenuhi biaya hidup dan kehidupannya, terlebih lagi untuk bekal beribadah kepada-Nya. Sebaliknya Allah sangat membenci orang-orang yang senang menganggur, lemah, lunglai dan tidak mau berusaha sehingga menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Orang yang senang menganggur tidak hanya sekedar dibenci oleh Allah, bahkan ia disiksa Allah pada hari kiamat dengan siksaan yang sangat hebat. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya agama Islam sangat anti pengangguran. Islam sangat menekankan kepada pemeluknya untuk bekerja. Karena orang yang bekerja akan dapat menentukan derajat seseorang. Seorang yang bekerja akan ditinggikan Allah derajatnya, sebagaimana firman Allah:
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al-Ahqaf: 19)
Bekerja bukan sekedar untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup secara material semata, namun bekerja juga dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan dalam hidup dan kehidupan. Sebaliknya apabila seseorang menganggur akan memejamkan hati, menghayal yang tidak-tidak dan akhirnya bisa menjerumuskan pada perbuatan yang kurang baik.
Hati yang buta akan menjadi sarang segala bentuk kejahatan. Tidak mengetahui halal dan haram, benar dan salah, lurus dan bengkok. Hidupnya menjadi tidak menentu dan salah arah serta mudah terombang-ambing goncangan zaman. Akibatnya adalah hidupnya selalu bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa, selalu dirundung resah, gelisah dan susah serta selalu dalam kegagalan dan kegagalan. Maka tidak heran bila Allah menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang beriman dan mau bekerja dengan baik. Sebagaimana firman Allah:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau melakukan aktifitas apapun, dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia.
Oleh sebab itu, Islam sangat anti terhadap orang-orang yang senang menganggur, malas dan tidak mau melakukan aktifitas apapun. Sebaliknya Islam mewajibkan bekerja dan mencintai pekerjaan sesuai dengan bidang masing-masing. Islam tidak saja menganjurkan pemeluknya menjadi pekerja ulet, menjadi tenaga kerja yang siap pakai, bahkan dianjurkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk membantu sesamanya demi kesejahteraan umat manusia.
Umat Islam jangan hanya bangga menjadi kuli umat beragama lain namun haruslah dapat menjadi majikan di negeri sendiri. Umat Islam harus berprestasi tinggi baik dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam ketrampilan menerapkan ilmu dalam wujud amal shaleh di tengah-tengah masyarakat.
Kehidupan umat Islam yang saat ini masih berada dalam cengkeraman para kapitalis segera lepas dan bangkit menyongsong kejayaan Islam di masa depan. Umat Islam harus meningkatkan etos kerja. Pengangguran yang semakin hari semakin membludak secara pelan-pelan harus dikurangi dengan menyediakan lapangan kerja. Islam tidak mentolerir pengangguran karena menjadi beban masyarakat, bangsa dan negara. Semoga usaha ini mencapai keberhasilan dengan maunah dan ridha Allah.
Share:

Thursday, 10 November 2016

MEMELIHARA JIWA

Salah satu keutamaan hidup adalah apabila kita bisa memelihara jiwa atau diri dengan segala anggotanya, sebab apabila salah satu anggotanya rusak dan menyebabkan tidak sempurnanya diri manusia. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia, mereka menyukai kebaikan dirinya, sehingga untuk mencapai keinginan tersebut telah tercapai, tentu sebutan baik akan diperoleh.
Sebaliknya, manusia tidak menginginkan apabila dirinya mendapat sebutan jelek, bahkan tidak mau disebut orang jahat meskipun memang benar dia orang jahat. Ini merupakan satu bukti manusia mencintai dirinya lebih dari mencintai yang lain.
Agama Islam tidak melarang umatnya mencintai dirinya sendiri, bahkan menetapkan berbagai kewajiban yang harus diperbuat yang berhubungan dengan hak pribadinya. Setelah manusia mengetahui hal itu, biasanya mereka baru mencintai dirinya. Bahkan sebenarnya manusia tidak akan mencintai dirinya apabila belum mengetahui bagaimana sebenarnya kedudukan harga dirinya dalam kehidupan.
Selain itu, manusia pun harus mengetahui hak dan kewajiban serta batas-batas dirinya sebagaimana mestinya, tidak boleh berlebihan atau melewati batas, tetapi juga jangan kurang, sebab kemungkinan kena tagih.
Untuk mencapai kesempurnaan diri, ada 3 kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap manusia, yaitu:
1.      Kewajiban manusia terhadap harta benda
Setiap pribadi berhak mendapatkan harta benda untuk bekal hidupnya di dunia, seperti makanan, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, alat-alat rumah tangga, sawah, ladang, emas, perak, dan keperluan hidup lainnya. Terhadap semua harta benda ini manusia dituntut agar mengusahakan haknya dengan sungguh-sungguh melalui usaha dan bekerja disertai percaya dan yakin pada kekuatan yang ada pada dirinya sebagaimana yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.
Agama Islam sudah menentukan beberapa jalan untuk mencari dan menghasilkan kekayaan yang diperlukan manusia. Barang siapa yang mengusahakan kekayaan atau harta benda dengan jalan halal, sebagaimana yang sudah diatur Islam, maka akan mendapat pahala dari Allah dan pandangan baik dari sesama manusia. Sebaliknya barang siapa yang mengusahakan haknya dengan jalan haram, yang dilarang agama, maka akan mendapat siksa dari Allah dan pandangan jelek dari sesama manusia.
2.      Kewajiban manusia terhadap kesehatan
Ahli kesehatan mengatakan bahwa memelihara kesehatan lebih mudah dan lebih murah daripada mengobati. Oleh karena itu, kita harus menjaga kesehatan tubuh agar jangan terserang penyakit, sebab biaya pengobatannya lebih mahal daripada menjaga. Apabila penyakitnya penyakit orang kaya, penyakit yang susah mencari obatnya. Begitupun menentukan macam-macam penyakit agar tahu obatnya tidak semua orang mengetahui, hal ini tentu saja memerlukan penelitian dokter. Sebab, apabila mengobati penyakit dengan dikira-kira, menurut ilmu pengetahuan dan penelitian, bahayanya akan lebih besar daripada manfaatnya. Mengetahui suatu obat dan menentukan ukurannya bagi seseorang yang terserang penyakit bukan pekerjaan gampang, bukan pekerjaan yang diketahui oleh setiap orang. Tetapi hal itu, khususnya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang menekuni bidang itu, seperti dokter dan ahli kesehatan lainnya. Sedangkan memelihara kesehatan mungkin semua manusia bisa melakukannya, asal manusia mengetahui aturannya. Bahkan menurut pandangan Islam, memelihara kesehatan merupakan hal yang harus terlebih dahulu dilakukan sebelum melaksanakan kewajiban, sebab seseorang yang tidak sehat tentu tidak akan bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Oleh karena itu, undang-undang tidak membenarkan seseorang melaksanakan kewajiban yang diluar kekuatan dan kemampuan fisiknya, sebab hal itu akan merusak kesehatan. Apabila tubuh sudah tidak sanggup atau kecapaian oleh suatu pekerjaan, maka ia berhak istirahat agar tubuh tetap sehat, tenaga bisa berkumpul kembali sebagaimana biasa.
Apabila tubuh kita memiliki hak dari kita, berarti kita memiliki kewajiban yang harus dikerjakan untuk kepentingan tubuh kita sendiri agar tubuh tetap sehat dan kuat, jauh dari macam-macam penyakit. Apabila sudah demikian, insya Allah, amal shaleh kita akan bertambah, bermanfaat bagi umat, dan Allah akan mencintai kita.
3.      Kewajiban manusia terhadap kesopanan
Kewajiban manusia selanjutnya yaitu kewajiban untuk tetap memelihara kesopanan hidup, terutama adab dan akhlak yang mulia, dan mengisi akalnya dengan macam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. untuk memenuhi hal ini ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian dari kita, yaitu:
a. Harus mengetahui batas-batas hak diri pribadi
Mengetahui hak-hak pribadi dan batas-batasnya, seperti batas-batas pengetahuan manusia, batas kekuatan anggota badan, batas tingkat derajat dan keunggulan dari yang lain. Gunanya mengetahui batas-batas ini agar kita selaku manusia tidak menjerumuskan diri sendiri ke jurang kehinaan dan kebinasaan. Manusia harus berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang di luar kemampuan akalnya, ilmu, dan harta benda.
Orang yang mengetahui batas-batas dirinya, bisa terlihat dalam tutur kata, amal perbuatan, sopan santun, atau budi pekertinya. Dia akan berbicara berdasarkan kemampuan pengetahuannya, tidak pernah bicara sok tahu atau sejenisnya. Dengan cara itu, dia tentu akan mendapat penghargaan dari orang lain. Dia sudah bisa memperlihatkan kelebihan dirinya berdasarkan batas-batas tertentu yang dimilikinya; tidak pernah sombong karena keturunannya. Demikian juga dalam bekerja berdasarkan kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya, tidak pernah memaksakan diri melakukan hal-hal yang diluar kemampuannya.
Sebaliknya orang bodoh tidak mengetahui batas-batas kemampuan dirinya, bisa terlihat dari tutur kata dan tingkah lakunya. Apabila berbicara, yang dikatakan hal-hal yang tidak diketahui dengan sebenarnya.
b. Mencintai dirinya
Mencintai diri sendiri berarti berusaha agar bisa memperoleh kebaikan dan menghindari kejelekan yang akan mencelakakan diri sendiri. Tidak akan ada yang disayangi, dikasihi, dicintai, dan dihormati kecuali diri sendiri. Apabila tidak ada rasa hormat, sayang, dan cinta terhadap diri sendiri, tentu tidak akan ada manusia yang memperoleh keuntungan dan tidak akan bertemu dengan kebahagiaan, sebab mungkin takkan ada yang mau bekerja dan berusaha mencari rezeki, kedudukan dan keutamaan.
c. Menghormati diri sendiri
Menghormati diri sendiri yaitu melakukan pekerjaan yang menyebabkan orang lain menghormati kita, seperti sopan santu, tingkah laku yang sesuai dengan aturan pergaulan, adat kebiasaan, terutama yang sesuai dengan aturan agama. Hormat kepada orang tua, menyayangi sesama, jujur terhadap sahabat dan kerabat, rela ditegur apabila berbuat salah, suka memberi nasehat, lisan tidak pernah mencela, tidak pernah menghina sesama manusia meski bagaimanapun keadaannya.
Orang seperti ini akan mendapat penghormatan dari orang lain yang berarti dia sudah bisa menghormati dirinya sendiri, sebab penghormatan orang lain itu bergantung kepada penghormatan kita kepada orang lain. Sebaliknya apabila kita tidak memperlihatkan akhlak yang mulia, tidak melakukan kebaikan, tidak menghargai orang lain, maka orang lain pun takkan mau menghormati dan menghargai kita.
Share:

CIRI-CIRI MUTTAQIN (ORANG YANG BERTAQWA)

Di dunia ini ada satu golongan umat manusia yang dicintai Allah SWT, golongan yang akan dimudahkan jalan kehidupannya di dunia dan akan diberi kebahagiaan di akhirat, bahkan golongan ini akan diberi jalan keluar dari berbagai macam kesulitan hidup dan diberi rezeki yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Golongan ini tiada lain yaitu golongan manusia yang disiplin, taat dan patuh terhadap aturan Allah, golongan yang konsekuen dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Golongan ini dalam Islam disebut muttaqin. Marilah kita perhatikan firman Allah SWT:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Berbagai macam kesulitan hidup memang akan dialami oleh seorang manusia, kesulitan hidup dalam bidang perusahaan, pekerjaan, rumah tangga, pergaulan, pendidikan, dan sebagainya. Bagi orang yang taqwa akan diberi jalan keluar untuk menyelesaikan kesulitan tersebut, minimal bisa mengurangi kesulitan itu. Oleh sebab itu, setiap Jum’at khatib berwasiat agar tetap bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Bagaimana yang disebut taqwa itu? Manusia yang memiliki sifat dan ciri yang bagaimana yang akan diselamatkan di dunia dan di akhiratnya?
Banyak sekali ciri-ciri taqwa dalam al-Qur’an, bahkan tidak kurang dari seratus macam kata yang menerangkan ciri dan sifat muttaqin itu. Diantaranya berdasarkan surat Ali Imran ayat 134-135 ada 4 syarat ciri muttaqin, yaitu:
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
1.      (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
Apabila seorang hartawan menginfakkan hartanya ratusan ribu rupiah kedengarannya tidak aneh. Tetapi apabila ada seseorang yang hidupnya selamanya kekurangan, tetapi dia menyisihkan harta yang sedikit itu untuk infak, maka yang seperti ini baru bisa disebut kejutan. Pantaslah Allah memberi gelar muttaqin terhadap orang yang seperti ini.
2.      Ciri taqwa yang kedua yaitu dan orang-orang yang menahan amarahnya.
Setiap orang memang sering marah, sifat ini biasanya timbul apabila menemukan persoalan yang tidak sesuai dengan keinginan. Amarah ini merupakan pengaruh setan, sedangkan setan itu berasal dari api. Ada api yang cepat menyala dan cepat padam, ada juga api yang susah menyala dan susah padam, ada api yang cepat menyala tetapi susah padam, bahkan ada yang susah menyala tetapi cepat padam; demikian juga manusia ada yang mudah marah dan susah hilang, mudah marah mudah hilang, susah marah tetapi mudah hilang, bahkan ada yang susah marah dan susah hilang.
3.      Ciri taqwa yang ketiga adalah “mema’afkan (kesalahan) orang”.
Tidak akan disebut insan apabila tidak pernah nisyan, tidak akan disebut manusia apabila tidak pernah salah. Yang namanya manusia pasti berbuat salah. Oleh karena itu, setiap muslim harus pemaaf. Allah SWT pun sangat pemaaf terhadap manusia. Manusia yang taqwa yaitu yang mencontoh sifat Allah dalam hal memaafkan kesalahan orang lain.
Apa sebabnya kita harus saling memaafkan dan saling membebaskan dosa? Sebabnya tiada lain dosa yang tidak diminta maafnya di dunia akan menjadi beban di akhirat. Oleh karena itu, masalah saling memaafkan ini tidak bisa disepelekan oleh kita, terutama yang ingin mendapat sebutan muttaqin.
4.      Ciri taqwa yang keempat yaitu:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu.
Apabila kita akan mencari orang yang tidak pernah salah atau tidak pernah berdosa, rasanya tidak akan menemukan. Oleh karena itu orang yang taqwa bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang apabila dalam satu waktu berbuat dosa dia cepat melakukan perkara tadi, yaitu: 1. Cepat berzikir dan mengingat Allah, 2. Setelah menyadari bahwa perbuatan itu salah, dia cepat istighfar mohon ampun kepada Allah atas perbuatan dosanya, 3. Segala dosa yang pernah dilakukan, dihentikan sama sekali, tidak pernah diulangi lagi.
Share:

Saturday, 18 June 2016

POLA ASUH ORANG TUA OTORITER (bagian 3)

Pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa kemudian hari, fokusnya lebih masa kini. Orang tua atau pengasuh primer mengendalikan anak lebih karena kepentingan orang tua atau pengasuhnya untuk memudahkan pengasuhan.
Mereka menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua atau pengasuh, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Orang tua atau pengasuh merasa tidak pernah berbuat salah. (Singgih D. Gunarsa, 1995: 29) Orang tua mau menerima dan menyayangi anak asal anak tunduk mutlak pada perintah-perintah orang tua, dan menjauhi larangan-larangan tertentu. Anak juga harus sanggup menolak atau mengingkari dorongan, impuls, dan keinginan sendiri. perasaan keinginan dan kemampuan sendiri harus ditekan atau dibuang, karena ada larangan dan tekanan-tekanan orang tua.  (Kartini Kartono, 2000: 185)
Orang tua sering tidak menyadari bahwa dikemudian hari anak-anaknya dengan pola pengasuhan otoriter mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih rumit, meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab cukupan, namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan tampak kurang percaya diri. Kebanyakan anak-anak dari pola pengasuhan otoriter melakukan tugas-tugasnya karena takut memperoleh hukuman.
Jika orang tua atau pendidik telah menggunakan pukulan atau kekerasan dalam mendidik seorang anak, maka sebenarnya dia telah menghilangkan kesempatan dalam mendidik dengan sebuah didikan yang benar, bahkan hal tersebut bukan merupakan bimbingan yang benar, tidak mengajak berfikir, dan tidak mengajak mengoreksi kebiasaan salah yang dilakukan sang anak, sehingga hasilnyapun nihil, walaupun sang anak nurut dikarenakan takut, walaupun sang anak mendengar bukan karena kewibawaannya sebagai pendidik yang benar tetapi karena takut akan pukulan dan kekerasaan, di belakang akan berkelekar dan akan timbul dendam atau ketidak hormatan sang anak terhadap orang tua tersebut. Dan tidak sedikit anak yang mendapatkan kekerasan dari orang tua, ketika berada di luar rumah mereka melampiaskannya dengan mabuk-mabukan atau bergaul dengan kesesatan karena merasa inilah jalan keluar dan yang terbaik bagi mereka. (A. Fulex Bisyri, 2004: 59)
Dalam kondisi yang ekstrim, anak laki-laki dengan pola pengasuhan otoriter sangat mungkin memiliki resiko berperilaku anti sosial, agressif, impulsif dan perilaku-perilaku maladaptif lainnya. Anak perempuan cenderung menjadi tergantung (dependent) pada orang tua atau pengasuh primernya. Terdapat beberapa anak yang kemudian menjadi kriminal atau melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang wajar. Utamanya mereka yang selain terkondisi dalam pola otoriter ditambah dengan siksaan-siksaan atau deraan-deraan fisik (Physical abuse of children). (G. Tembong Prasetya, 2003: 30) Pola pengasuhan seperti ini seringkali berulang-ulang pada generasi berikutnya (sekali lagi Intergeneration Transmission) yang berjalan dalam ketidaksadaran.

REFERENSI:
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000.
Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Pra Sekolah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
Muhammad Al-Hamd, Kesalahan Mendidik Anak, Cet. IV, Geman Insani Press, Jakarta, 2001.
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Pustaka Inti, Jakarta, 2002.
Sarumpaet, Rahasia Mendidik Anak, Indonesia Publishing House, Bandung, 1973.
A. Fulex Bisyri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid, Bandung, 2004.
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Membimbing, Cet. 8, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Kartini Kartono, Hygiene Mental, Mandor Maju, Bandung, 2000.
G. Tembong Prasetya, Pola Pengasuhan Ideal, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2003.
Share:

Friday, 17 June 2016

POLA ASUH ORANG TUA OTORITER (bagian 2)

Pada bagian kedua ini melanjutkan pada tulisan terdahulu, di sini melanjutkan tentang Indikator Orang Tua Otoriter.

d. Menuruti segenap kemauan anak
Menuruti segala keinginan anak tidak baik. Mereka itu akan menjadi manja, sesudah dewasa sukar untuk mengontrol diri, karena segenap kemauannya selalu terpenuhi. Anak-anak semacam itu akan gampang kecewa atau putus asa kalau rencananya gagal. Mereka kurang tabah dan kurang sabar dalam mengalami berbagai cobaan hidup. Anak-anak pada umumnya ingin mencoba segala sesuatu, sudah pasti bahwa sebagian besar keinginan mereka itu tidak baik bahkan ada yang membahayakan. Itulah sebabnya orang tua yang bijaksana tidak akan mengabulkan semua keinginan anak. (Sarumpaet, 1973: 169)e. Bersikap tidak adil
Anak-anak mungkin belum tahu bagaimana mengucapkan bahwa orang tuanya tidak adil, tetapi mereka mempunyai perasaan yang sangat halus. Mereka kecewa atas tindakan-tindakan yang tidak adil, kekecewaan kemudian menjelma menjadi keputusasaan. Setelah mereka mengalami putus asa, mereka tidak memperdulikan ancaman-ancaman hukuman lagi bahkan sifat-sifat pemberontak terpupuk dalam jiwanya.
Sebagai contoh, David marah sekali kepada ibunya karena tindakan yang tidak adil. Ia dihukum lebih berat dari adiknya yang sebenarnya membuat kesalahanlebih besar. Ibunya sudah menjatuhkan vonis sebelum lebih jelas duduk persoalannya.

f. Mendidik anak dengan dimanja dan hidup tanpa aturan, membiasakan anak hidup mewah, congkak, royal dan bersuka ria.
Akibatnya anak tumbuh dan terbiasa dengan hidup mewah, egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. is tidak lagi mempunyai kepedulian terhadap orang lain, tidak pernah menanyakan tentang keadaan saudara-saudaranya sesama kaum muslim, serta tidak ikut merasakan kegembiraan dan kesedihan mereka.
Oleh karena itu, mendidik anak seperti ini akan merusak fitrah (naluri baiknya) melenyapkan keistiqamahan, serta membasmi kewibawaan dan keberaniannya.

g. Menumbuhkan pada diri anak rasa kecil hati, takut, gelisah dan keluh kesah.
Sebagaimana yang kita perhatikan terhadap metode kita dalam mendidik, yaitu selalu menakut-nakuti mereka dengan hantu, penculik, setan, suara angin, dan sebagainya. Lebih buruk lagi bila kita menakut-nakuti mereka dengan gurunya, sekolahnya, atau dengan dokter, sehingga ia selalu dihantui rasa takut dari sesuatu yang semestinya tidak perlu ditakuti.
Mengancam seorang anak supaya mau bekerja juga tidak bijaksana, dia berbuat oleh karena takut, tetapi bukan karena keinginan hendak menurut. Adalah kesalahan besar mengancam seorang anak dengan hukuman kalu tidak menurut. Sebagian anak akan tergoda menimbang berat hukuman dengan berat tugas, lalu mengambil keputusan supaya lebih baik dihukum saja dari pada melakukan tugas berat itu. Anak kecil yang diancam tidak akan diberi kue (roti) kalau menyeberang jalan raya, besar kemungkinan anak tersebut lebih menyeberang jalan walaupun tidak mendapat kue (roti). (Sarumpaet, 1973: 181)

h. Kurangnya kasih sayang
Kadang-kadang tanpa disengaja orang tua kurang memberi kasih sayang. Mungkin juga orang tua sudah merasa memberikan kasih sayang, tetapi ternyata anak tidak merasa memperolehkasih sayang. Memang sulit untuk menentukan apakah sudah cukup kasih sayang yang diberikan atau belum. Perasaan tidak cukup disayangi ini akan menimbulkan akibat pada kepribadiannya. (Singgih D. Gunarsa, 1995: 58)
Hal itulah yang menyebabkan mereka berusaha mencari kasih sayang di luar rumah, dengan harapan agar ada orang yang dapat memberikan kasih sayang kepada mereka.

i. Mendidik mereka atas hal-hal perbuatan yang rendah, kata-kata yang jelek, dan akhlak yang tidak terpuji.
Sebagai contoh, orang tua memberi dorongan kepada mereka untuk gemar datang ke gelanggang olah raga jika di gelanggang itu ada percampuran antara laki-laki dan perempuan serta saling memperlihatkan aurat) mengekor/ meniru-niru orang kafir, membiasakan anak-anak perempuan memakai pakaian pendek, melontarkan kata-kata kasar, jorok, dan kotor yang disebabkan orang tua sering kali bahkan berulang-ulang, menggunakan kata-kata tersebut. Atau melalui panggilan anak-anaknya dengan julukan jorok, sehingga si anak terbiasa dengan panggilan-panggilan semacam itudan tidak lagi mau memperhatikan etika berbicara.

j. Terlalu buruk sangka terhadap anak-anak
Ada sebagian orang tua yang buruk sangka terhadap anak-anaknya bahkania amat berlebihan dalam hal itu sampai keluar dari batas kewajaran. Misalnya menuduh niat anaknya dan sama sekali tidak percaya kepada mereka. Ia memberikan kesan kepada mereka bahwa ia akan memberikan hukuman kepada mereka setiap kali melakukan kesalahan kecil maupun besar tanpa mau memaklumi dan melupakan sedikitpun tentang kekeliruan dan kesalahan mereka.
Dari uraian di atas sebenarnya masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Orang tua sering tidak menyadari bahwa kesalahan dalam mendidik anak dapat menimbulkan berbagai reaksi, dan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Anak mungkin akan mudah goyah, tidak stabil emosinya, dan sulit untuk dikontrol. Sebagai orang tua yang baik, maka dalam mendidik anak lebih ditekankan pada pendidikan yang membimbing, mengarahkan meraka kepada hal-hal yang benar, dan sabar dalam mendidik dengan penuh kasih sayang dan perhatian.
Semoga bermanfaat

Referensi:
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000.
Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Pra Sekolah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
Muhammad Al-Hamd, Kesalahan Mendidik Anak, Cet. IV, Geman Insani Press, Jakarta, 2001.
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Pustaka Inti, Jakarta, 2002.
Sarumpaet, Rahasia Mendidik Anak, Indonesia Publishing House, Bandung, 1973.
A. Fulex Bisyri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid, Bandung, 2004.
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Membimbing, Cet. 8, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Share:

POLA ASUH ORANG TUA OTORITER (bagian 1)

 PENGERTIAN
Orang tua yang otoriter adalah sikap orang tua yang suka menghukum secara fisik, bersikap mengomando (mengharuskan atau memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi), bersikap kaku (keras) dan cenderung emosional dan bersikap menolak. (Syamsu Yusuf LN, 2000: 51)
Zaman seperti sekarang ini masih ada orang tua yang memukul anaknya. Ada kalanya anak begitu menjengkelkan sampai orang tua kehilangan kesabaran dan memukul tangan atau bokongnya. Memang, sesekali memukul tangan tak akan merusak hubungan antara orang tua dengan anak, tapi pukulan tersebut tak meningkatkan disiplin yang ditegakkan atau hubungan dalam keluarga. Pukulan atau tamparan lebih memberi keuntungan dan hukuman kepada pelaku dari pada anak yang mengalaminya. Jika orang tua merasa bahwa memukul anak merupakan tindakan yang tepat, maka ia cenderung akan semakin sering melakukannya dan akan berkembang hubungan yang diwarnai dengan kebencian antara orang tua dan anak. Dan orang tua pun memberi contoh yang tak baik. (Sylvia Rimm, 2003: 85-86)
Orang tua sering menganggap bahwa dirinya sebagai seorang polisi, polisi yang selalu menghukum bila ada yang bersalah. Menjadi polisi bagi anak merupakan tindakan salah tapi kaprah, salah karena tindakan itu sudah terlambat, anak sudah melakukan kesalahan baru diributkan. Kaprah karena tindakan ini paling sering dilakukan oleh kebanyakan orang tua, baik Ibu maupun ayah. Mereka baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak, bukan mencegah, mengarahkan dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. (Irawati Istadi, 2002: 17)
Pengertian di atas memberi gambaran bahwa orang tua otoriter adalah orang tua yang mempunyai karakter suka menghukum anak secara fisik, bertemperamen keras atau kaku sekehendak hati pada anak. Orang tua yang sewenang-wenang terhadap anak, tidak akan memberi peluang kepada anak, seolah-olah semuanya sudah diatur oleh orang tua. Hal demikian akan lebih menimbulkan banyak kebencian pada diri anak. 

Indikator Orang Tua Otoriter
Medidik anak adalah pekerjaan terpenting yang pernah diamanatkan kepada umat manusia. Tugas mulia, membentuk tabiat sebagian besar terletak di tangan orang tua. Dalam hal mendidik, orang tua harus waspada terhadap berbagai kesalahan yang tanpa sadar sering dilakukan.  (Sarumpaet, 1973: 178) Kendati tanggung jawab dalam mendidik anak itu besar, namun sebagian besar manusia mengabaikan masalah tanggung jawab ini, meremehkannya dan tidak mau memelihara (memperhatikan) masalah tanggung jawab ini secara serius, sehingga mereka menelantarkan anak-anak mereka, membiarkan persoalan pendidikan mereka. (Muhammad Al-Hamd, 2001: 14)
Kesalahan dalam mendidik anak itu bayak bentuk dan variasinya serta fenomenanya yang menyebabkan anak itu menyimpang dan menyeleweng, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Tindakan Diktator
Tindakan-tindakan brutal dan membabi buta tidak pernah membawa berkat. dakan-tindakan diktator lebih banyak merusak dari pada membawa untung. Ayah-ibu yang biasa bertindak terlalu kasar kepada anak-anaknya bukanlah menolong anak itu tetapi merusak. (Sarumpaet, 1973: 172)
Anak-anak yang dibesarkan di bawah disiplin yang terlalu keras akan mengalami susah, didikan kehalusan jiwa perlu bagi anak-anak.
Sebagai contoh, seorang anak bernama Ali akhirnya menjadi seorang yang nakal dan jahat. Ia dididik dengan tongkat besi. Ayahnya bersikap melatih bukan mendidik, segala peraturan yang dibuat ayahnya tidak dimengerti oleh Ali. Ali diperintahkan untuk memberikan hormat kepada ayahnya sebelum pergi sekolah dan sekembalinya. Cara penghormatan militer yang diharuskan itu bukannya menolong Ali tetapi malahan menimbulkan kedongkolan. Setelah dewasa Ali bagaikan seekor kuda lepas dari kandang, cenderung berbuat segala sesuatu menurut sekehendak hatinya
b. Terlalu bersikap keras dan kasar dari yang sewajarnya
Misalnya memukul anak-anaknya dengan berlebihan apabila mereka melakukan kesalahan meskipun itu baru pertama kali ia lakukan, ataupun orang tua sering menegur mereka dengan keras dan memarahi mereka ketika mereka melakukan kesalahan kecil maupun besar, atau bentuk-bentuk kekerasan dan kekasaran yang lainnya. (Muhammad Al-Hamd, 2001: 19)
c. Berdo’a jelek untuk sang anak
Ketika marah kepada sang anak, terkadang spontanitas keluar kata-kata yang tak pantas dari mulut orang tua, baik kutukan, makian atau bahkan keluar seuntai kalimat do’a dari mulut orang tua. (A. Fulex Bisyri, 2004: 64)
Ada diantara orang tua yang mendo’akan buruk atas anak-anaknya hanya karena diantara mereka ada yang durhaka atau menentangnya, yang kedurhakaannya itu mungkin disebabkan oleh orang tuanya sendiri.
Kedua orang tua tidak menyadari bahwa do’a tersebut terkadang diucapkan pada waktu yang mustajab (do’a itu dikabulkan) sehingga do’a itu benar-benar menjadi kenyataan. Dengan demikian mereka menyesali perbuatannya itu selama-lamanya. (Muhammad Al-Hamd, 2001: 31)
Orang tua yang baik dan bijak tak pernah mendo’akan anaknya dengan do’a yang buruk, bahkan ketika anaknya sesat dan tercela, orang tua tersebut selalu mendo’akan dengan do’a kebaikan bagi anaknya di dunia dan di akhirat.(A. Fulex Bisyri, 2004: 64)  Ada orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya do’a itu bagaikan batu yang dilempar, ada kalanya mengenai sasaran dan ada kalanya tidak mengenai sasaran.
Alangkah tindak baik bila orang tua mendoakan sang anak dengan doa yang sesat dan tidak terpuji, karena jika kemudian Allah SWT mengabulkannya, maka keburukan tersebut akan terkena kepada orang tua tersebut, disebabkan sang anak tertimpa keburukan yang didoakan orang tua tadi. Bukankah lebih baik orang tua mendoakan kebaikan untuk sang anak, sehingga jika anaknya baik, maka kebaikan tersebut akan dirasakan oleh orang tua pula. (A. Fulex Bisyri, 2004: 64)

Referensi:
Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000.
Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Pra Sekolah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.
Muhammad Al-Hamd, Kesalahan Mendidik Anak, Cet. IV, Geman Insani Press, Jakarta, 2001.
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Pustaka Inti, Jakarta, 2002.
Sarumpaet, Rahasia Mendidik Anak, Indonesia Publishing House, Bandung, 1973.
A. Fulex Bisyri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid, Bandung, 2004.
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Untuk Membimbing, Cet. 8, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Share:

Featured post

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Faktor Keturunan ( hereditas ) Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartik...

Popular Posts

Pageviews

Powered by Blogger.